Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Loper Koran

larut dalam kepakan embun melesat saingi fajar kibarkan wudhu letakkan dahi di tanah tak lupa restu ibu dalam balutan nisan berhias debu menderu waktu lintasi jalan berpeluh terik matahari dan rinai hujan tajam kerikil lekat di kaki bagai teman rindang pohon redakan sedu sedan di beranda kawan sampaikan kabar lunas sudah puluhan kata berita tersiar lekukan senyum mu kawan hapus nanar lambaian tangan mu kawan rona sabar berpendar pernah bosan selimuti jiwa pernah lelah membebani raga tapi kota tidak peduli apa yang ku rasa berhenti bukan jawaban dari sang pencipta entah berapa rumah telah ku singgahi entah berapa orang telah ku jumpai entah berapa tahun telah ku jelajahi entah berapa koran telah ku beri koran... bukan sekedar kumpulan kalimat bersayap dan beranak koran... kata-kata tersusun hantaran lisan cerita terbentuk ciptakan khayalan koran... tiap halaman adalan harapan tiap halaman adalah penghidupan

Sanubari

senja datang gantikan rona terang cahaya dekati malam dekap wajah pekerja ini bukan sekedar pergantian masa senja datang selimuti murung tanah gersang coretan jingga hantarkan sendi meregang alur roda sepeda melaju lebih kencang tiap jarak jalan hapuskan keluh kesah lukiskan senyum bocah dalam balutan ikhlas membuka pelukan, sembuhkan lelah teringat kemarin gerak lincah mu getarkan perut ibu bergerak tiada henti menghibur ibu tuk mengganti kecemasan menemani ibu tuk membasuh kerinduan teringat kemarin telapak tangan mengusap lembut di perut ibu kan jadi selimut  hangat beri ketenangan terasa detak jantung mu beri semangat hembuskan napas yang terasa begitu lekat tiap gerak mu menggoda lelah dan keringat hilang tak berbekas desiran angin iringi langkah pulang sekali lagi…roda sepeda ku laju lebih cepat tiap jarak terlewati menyisahkan angan tuk berjumpa, bercerita, menikmati lukisan langit senja ...

Pagi Sendu

Cangkir kesayangan berhias ayam jago tercium aroma biji kopi ala café. Melengkapi pagi sendu. Menarawang jalan lengang agak basah depan rumah. Sesekali terlihat ibu menggandeng anaknya antar ke sekolah. Berkalung kantuk dan malas si anak melangkah. Ku sunggingkan senyum ke arah mereka. Lambaian tangan tak tertinggal, berharap si anak mempercepat langkahnya. Seruput kopi pagi aroma biji ala café ciptakan nada nikmat. Terasa pas, tidak manis, sedikit pahit. Sedikit panas, ciptakan tenang yang sederhana. Daun kelapa milik tetangga menari malu-malu manjakan pagi. Tak rela berlalu begitu cepat, ku abadikan dalam sebuah coretan. Tak begitu sempurna, tak ada kesan di dalamnya. Koran berdampingan dengan cangkir kesayangan berhias ayam jago yang masih tercium aroma biji kopi ala café. Koran pagi yang tak menarik tuk dibaca. Tak bosan terus menggoda. Tiap lembar pamer kabar. Dari sudut balkon jamahi kata-katanya. Sedikit terpaksa, tapi tetap harus dibaca. Berita terlihat abu-abu. Bukan ...

Ah..biarlah...

Hujan sore membawa nada bimbang bersama rasa dingin menghujam tak lupa angin ikut serta ciptakan gerakan sempurna runtuhan bendungan langit yang tak lagi kuat menopang Masih di halte yang sama Masih memandang lampu jalanan yang sama Masih mencium aroma got yang sama Masih mendengar ocehan pedagang yang sama Semua nya masih tampak sama… Ah…biarlah… Meski semua masih tampak sama pun mereka tak bosan di tempat yang sama Langit merah sedikit gelap Tergambar mirip flannel yang ku kenakan sejak kemarin Sebuah kebetulankah?? Atau memang langit diam-diam menyelaraskan? Ah…biarlah…. Kebetulan atau tidak, hujan juga tidak peduli pun peduli, pasti hujan berwarna sama dengan flannel sedikit sobek pada ketiak yang ku kenakan sejak kemarin Ku tengok satu persatu wajah gelisah di halte Guratan wajah yang terlalu resah Melebihi keresahan penjajak es cendol berteduh di tempat yang sama dalam hatinya mungkin mengutuk tiap butiran ...

Belati dan Gelang Punakawan

Nyamuk menghisap darah dengan pongahnya Gaung suaranya tak kalah meriah Memaksa mencari teman bercerita baru di dalam rumah Hanya ada kursi, meja, lemari, guci, dan gelang ukiran punakawan melingkar di tangan Lukisan dan tumpukan buku bersembunyi Menyelamatkan diri dari cerita basi Mata ku tetap mencari kawan mana yang pantas menyimak tiap lontaran kata-kata Malam masih diiringi lekingan suara anjing tanpa henti Berpadu suara khas pedagang nasi goreng langganan melengkapi kebisingan mengiringi nyanyian jangkrik “jangkrik..jangkrik…sekiranya kau anjing” “anjing…anjing…sekiranya kau jangkrik” , aku mulai berkhayal Sekiranya begitu mudah bertukar tempat Sekiranya begitu mudah memilih Mungkin saat ini aku berdagang nasi goreng tidak hanya berteman dengan kursi, meja, lemari, dan guci   Sekali lagi, lukisan dan buku masih bersembunyi… Terang petromak di gerobak nasi goreng menyemburatkan siluet sempurna pada dinding rumah Lo...

Sekedar Mimpi

Bayangan mimpi perlahan menghilang Hilang disertai langkah kenangan Kenangan menguap bersama hembusan angin Terhempas bersama debu kepedihan masa lalu… Nampak mimpi itu terlalu panjang untuk ku Sepanjang cerita kita yang tertulis dengan tinta kerinduan Rindu yang tak mungkin menepi pada sisi hati Hati yang telah terbalut sebuah doa… Bayangan mu pun pergi begitu cepat Secepat kau berlari tuk menangkap angan dan mimpi yang kau pun tak tahu bentuk serta rupa mimpi itu Dalam pikiran mu berkata, "ada kah mimpi itu?" Dalam benakmu menyapa, "kau lah mimpi ku itu?" Jika mimpi itu ada, haruskah linangan air mata berjalan begitu derasnya bersama bulir-bulir kepedihan? Jika mimpi itu ada, haruskah penantianku hanya disapa oleh angin palsu yang memberi kesejukan di tengah kehampaan lalu pergi dengan pesan, "mungkin aku tak akan pernah ada?" Memang waktu yang datang begitu lambat menyapa meski raga ini ma...

Terminal Kretek

Rembulan tak bosannya bertengger pada langit gelap Suara dari surau memecah dekapan subuh Anak kecil meringkuk di tempat yang sama dari semalam Emperan toko menjadi tempat yang paling mewah baginya Penjual sayur mulai memamerkan dagangannya Kuli panggul merapihkan baju dinasnya Knalpot angkot meraung menyaingi suara adzan Wajah-wajah gusar, senang, pasrah, dan malas bercampur hiruk pikuk nyamuk dan lalat usai berpesta Tak kalah suara calo bis antar kota memeriahkan   Bersambut penjajak koran menjual berita murahan Meski tak peduli, gembel di ujung jalan mencoba cari kesibukan entah berapa rupiah yang telah dikumpulkannya demi sebatang kretek membuat kepulan asap sambil tertawa, lalu bangga “dasar gembel” “tak tahu diri, mengumpulkan receh seharian hanya untuk kretek” , pikirku… Rumah makan dengan menu alakadarnya mulai menggoda Mungkin menu tadi malam, mungkin juga menu kemarin malam, mungkin... Wajah setengah mengantuk, penjaga toil...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (2)

Lengkap dengan caping di kepala, masih dengan kebaya lusuh di badannya, tak tertinggal jarik bertambal, dan sebuah arit di tangan, dirinya memulai aktivitas yang rutin dikerjakannya. Sinar mentari yang menyelinap dari lubang-lubang bilik bambu rumahnya, suara ayam berkokok yang saling bersaut, dan tanah merah di depan rumahnya mengiringi langkah Sutijah menuju sawah Pak Darmo. Darmo Sastrodiharjo, seorang bangasawan dan tuan tanah yang memiliki lahan luas di desa Sutijah berada. Sebagai keturunan ningrat yang hidup dalam masyarakat dengan kebudayan Jawa yang begitu kental, tentu saja keberadaan Pak Darmo sangat dihormati dan disegani. Tak seperti tuan tanah kebanyakan, Pak Darmo adalah sosok yang bersahaja, sangat bersahabat dengan buruh tani nya, dan membuka kesempatan luas kepada warga yang ingin bekerja di lahannya. Bagi Sutijah, Pak Darmo tetesan embun di antara keringnya ladang. Pak Darmo memberikan harapan kepada Sutijah untuk tetap bisa menghidupi keluarganya. Dari Pak ...

Malam Menanti Hujan

Terperangkap dalam keheningan malam Meminta langit menurunkan hujan Berharap tiap tetesannya mampu meredakan kerinduan Kerinduan yang tak mungkin diucapkan…   Hanya mampu bersimpuh di ujung penantian Meski raga menolak namun hati tak dapat menipu diri Meski tetesan air mata basahi pangkuan harapan yang tak pasti Kerinduan tetap menanti hujan……   Terlalu sombongkah langit tuk mengucap janji? Atau malam yang terlalu setia kepada langit? Tak ada lagi kuasa diri ini tuk meminta berulang kali Karna janji tak kunjung menyasar ke sanubari…   Malu pada pohon..malu pada rumput…malu pada serangga… Tak pernah ku dengar mereka mengeluh atau meminta Mungkin saat ini batu dihadapanku tertawa dalam diamnya… Mungkin saat ini tanah mengasihaniku dalam ketabahannya… Mengasihaniku karna hanya mampu mengadah…meminta belas kasihan… dan tetap bersimpuh menanti hujan tuk meredakan kerinduan yang tak mungkin diucapkan….. ...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...