Langsung ke konten utama

Belati dan Gelang Punakawan




Nyamuk menghisap darah dengan pongahnya
Gaung suaranya tak kalah meriah
Memaksa mencari teman bercerita baru di dalam rumah
Hanya ada kursi, meja, lemari, guci,
dan gelang ukiran punakawan melingkar di tangan

Lukisan dan tumpukan buku bersembunyi
Menyelamatkan diri dari cerita basi
Mata ku tetap mencari kawan mana yang pantas
menyimak tiap lontaran kata-kata

Malam masih diiringi lekingan suara anjing tanpa henti
Berpadu suara khas pedagang nasi goreng langganan
melengkapi kebisingan mengiringi nyanyian jangkrik

“jangkrik..jangkrik…sekiranya kau anjing”
“anjing…anjing…sekiranya kau jangkrik”, aku mulai berkhayal

Sekiranya begitu mudah bertukar tempat
Sekiranya begitu mudah memilih
Mungkin saat ini aku berdagang nasi goreng
tidak hanya berteman dengan kursi, meja, lemari, dan guci  

Sekali lagi, lukisan dan buku masih bersembunyi…

Terang petromak di gerobak nasi goreng
menyemburatkan siluet sempurna pada dinding rumah
Lolongan anjing tetangga makin melengking dan sering
Terkadang ku ingin ambil belati
Lalu puas melihatnya meregang nyawa

Sama seperti malam sebelumnya
Kantuk tak sudi mampir  
Ketika ku panggil, jangankan melihatku
Ia berlari seperti melihat seonggok bangaki berjalan

Ku coba datangi kursi tua ku
Derit suaranya menambah keresahan
Bisa jadi suara derit itu gambaran kebosanan
Bisa jadi suara derit itu keluhan si kursi
Mungkin ia ingin belari bersama rasa kantuk ku
Meninggalkan aku bersama lukisan dan buku
yang tak lelahnya terus bersembunyi

Lelah bersama mereka
atau mereka yang tlah lelah bersamaku?
Kembali keluar rumah ku dapati siluet mulai berpencar
Rona terang lampu petromak menjauh
Menjauh bersama kantuk yang tak kunjung tiba
Mungkin dia menemukan majikan baru
Majikan alim tanpa sumpah serapah

Layaknya pertandingan sepak bola
Anjing, jangkrik, tukang nasi goreng menjadi pemain pengganti
Giliran ayam, speaker masjid, dan gerimis sebagai pemain inti

Pergantian dengan pola yang apik
Permainan alam nan romantis  
Teratur tanpa emosi, minim ambisi, dan tanpa nafsu untuk saling memburu
Datang pada waktu yang tepat tanpa diminta

Gerimis berhenti, awan gelap pulang ke peraduannya
Matahari datang, hilangkan rasa malunya
Entah nyonya atau tuan ku bisa menyebutnya
Tapi ia pun datang tanpa diminta

Perlahan dari kejauhan sosok yang ku kenal
Berlari secepat anjing tetangga melihat tulang
Melebarkan tangannya, mencoba memeluk seonggok bangkai
Bangkai tanpa teman dengan pandangan kosong melihat cemara

Masih hitam dan putih…
tapi nampak jelas sosok yang berlari itu
dipeluk majikannya, membimbingku masuk ke dalam rumah
perlahan, rapuh, dan lunglai melewati lukisan dan buku
yang lelah bersembunyi…
ku biarkan berlalu, kini ku terpejam dalam gelap

Hitam..kini semua hitam….
hanya ada napas yang kian menderu cepat disampingku
bau nya yang menyengat dan terdengar lirih tanpa henti
ku buka mata, terlihat pagar, dan belati di tangan…
tangan yang ku kenal…tepat sekali…ku kenal tangan itu
gelang ukiran punakawan melingkar di tangan

kembali hitam..semua menjadi hitam
tak sempat ku pandangi pemilik belati itu
pemilik gelang ukiran punakawan melingkar di tangan
tak sempat ku lihat….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...