Nyamuk menghisap darah
dengan pongahnya
Gaung suaranya tak kalah
meriah
Memaksa mencari teman
bercerita baru di dalam rumah
Hanya ada kursi, meja, lemari,
guci,
dan gelang ukiran
punakawan melingkar di tangan
Lukisan dan tumpukan buku
bersembunyi
Menyelamatkan diri dari cerita
basi
Mata ku tetap mencari
kawan mana yang pantas
menyimak tiap lontaran
kata-kata
Malam masih diiringi
lekingan suara anjing tanpa henti
Berpadu suara khas
pedagang nasi goreng langganan
melengkapi kebisingan mengiringi
nyanyian jangkrik
“jangkrik..jangkrik…sekiranya
kau anjing”
“anjing…anjing…sekiranya
kau jangkrik”, aku mulai
berkhayal
Sekiranya begitu mudah
bertukar tempat
Sekiranya begitu mudah
memilih
Mungkin saat ini aku
berdagang nasi goreng
tidak hanya berteman
dengan kursi, meja, lemari, dan guci
Sekali lagi, lukisan dan
buku masih bersembunyi…
Terang petromak di gerobak
nasi goreng
menyemburatkan siluet
sempurna pada dinding rumah
Lolongan anjing tetangga
makin melengking dan sering
Terkadang ku ingin ambil
belati
Lalu puas melihatnya
meregang nyawa
Sama seperti malam
sebelumnya
Kantuk tak sudi mampir
Ketika ku panggil, jangankan
melihatku
Ia berlari seperti melihat
seonggok bangaki berjalan
Ku coba datangi kursi tua
ku
Derit suaranya menambah
keresahan
Bisa jadi suara derit itu
gambaran kebosanan
Bisa jadi suara derit itu
keluhan si kursi
Mungkin ia ingin belari
bersama rasa kantuk ku
Meninggalkan aku bersama lukisan
dan buku
yang tak lelahnya terus
bersembunyi
Lelah bersama mereka
atau mereka yang tlah
lelah bersamaku?
Kembali keluar rumah ku
dapati siluet mulai berpencar
Rona terang lampu petromak
menjauh
Menjauh bersama kantuk yang
tak kunjung tiba
Mungkin dia menemukan
majikan baru
Majikan alim tanpa sumpah
serapah
Layaknya pertandingan
sepak bola
Anjing, jangkrik, tukang
nasi goreng menjadi pemain pengganti
Giliran ayam, speaker
masjid, dan gerimis sebagai pemain inti
Pergantian dengan pola
yang apik
Permainan alam nan romantis
Teratur tanpa emosi, minim
ambisi, dan tanpa nafsu untuk saling memburu
Datang pada waktu yang
tepat tanpa diminta
Gerimis berhenti, awan
gelap pulang ke peraduannya
Matahari datang, hilangkan
rasa malunya
Entah nyonya atau tuan ku
bisa menyebutnya
Tapi ia pun datang tanpa
diminta
Perlahan dari kejauhan
sosok yang ku kenal
Berlari secepat anjing
tetangga melihat tulang
Melebarkan tangannya,
mencoba memeluk seonggok bangkai
Bangkai tanpa teman dengan
pandangan kosong melihat cemara
Masih hitam dan putih…
tapi nampak jelas sosok
yang berlari itu
dipeluk majikannya,
membimbingku masuk ke dalam rumah
perlahan, rapuh, dan
lunglai melewati lukisan dan buku
yang lelah bersembunyi…
ku biarkan berlalu, kini
ku terpejam dalam gelap
Hitam..kini semua hitam….
hanya ada napas yang kian
menderu cepat disampingku
bau nya yang menyengat dan
terdengar lirih tanpa henti
ku buka mata, terlihat
pagar, dan belati di tangan…
tangan yang ku kenal…tepat
sekali…ku kenal tangan itu
gelang ukiran punakawan
melingkar di tangan
kembali hitam..semua
menjadi hitam
tak sempat ku pandangi
pemilik belati itu
pemilik gelang ukiran
punakawan melingkar di tangan
tak sempat ku lihat….

Komentar
Posting Komentar