Langsung ke konten utama

10 Tahun Hilangnya Napasmu





Semangatnya masih terasa
Raut wajahnya masih jelas dipikiran
Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga
Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan

Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama

Hidup dan menjelma bagai api berkobar
Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak
Bangkit dari tertidurnya keadilan
Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan
Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu

Banyak yang sengaja tak diungkap

Banyak yang sengaja disembunyikan
Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa
Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah

Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli

Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi
Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana
Sambil mencoba melupakan kejidan hina nya sejarah HAM bangsa ini

10 tahun bukan waktu yang mudah

Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini
Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa
Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM

Berjuang membaut kesadaran akan ketimpangan dan ketidakadilan

Mengungkap dosa pemimpin negeri yang terlupakan
Membangkitkan jiwa yang terpinggirkan
Meski pemerintah menganggap hina atau jalang.....

Biarlah Munir kan selalu ada di napas perjuangan kami

Tak perlu penghormatan atau tanda jasa pahlawan
Karna Munir kan selalu ada di hati kami
Untuk tetap bersuara dan menulis kebenaran

Dikenang atau tidak, bukanlah hal yang penting
karena cepat atau lambat insan idealis ini
tanpa diasadari akan “dihilangkan”

Tak perlu batu nisan atau karangan bunga
untuk menandai kematiannya
sebab tembok, kertas, dan dedaunan kering
akan merekam gerak geriknya

Tak perlu banyak kalimat
untuk mengenal sosok insan idealis
dimanapun dan siapapun dirinya,
hanya ada satu kata yang selalu hidup, yaitu
LAWAN!!!

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...