Langsung ke konten utama

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)



Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya.

Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah Sutijah karena sesuatu hal. Sampai saat ini pun dirinya tak mengerti apa alasan Pak Karmo tak lagi mengirimkan beras untuk keluarganya. Meskipun dalam hati Sutijah menolak untuk terus menerus menerima bantuan orang lain, namun apa daya, tak ada lagi yang bisa dilakukan Sutijah saat ini.

Kembali Sutijah menenangkan anak-anaknya dengan nyanyian-nyanyian, berharap anaknya kembali tidur dan bermimpi indah. Tetesan air mata Sutijah mengalir mengiringi usapan tangan di kapala anaknya. Lampu teplek yang kian meredup tak melemahkan tekad Sutijah untuk sejenank membuat anak-anaknya tetap terlelap. Dinding bilik anyaman bambu yang menyisahkan lubang-lubang membuat semilir angin menusuk tulang Sutijah. Seperti malam-malam pada sebelumnya, malam ini pun Sutijah hanya mengenakan kebaya lusuh dengan bawahan kain jarik yang entah sampai kapan bisa menemani kehidupan Sutijah. Lusuh dan beberapa tambalan pada kainnya membuat Sutijah sering merasakan sakit pada paru-paru dan tulang. Mungkin ini akibat dari dinginnya udara malam yang harus dihadapi Sutijah. Udara malam dan kantuk yang begitu hebat menyerang Sutijah menguji kesabarannya untuk tetap menjaga tidur anak-anaknya. Malam terus berlalu, suara jangkring tak lagi mampu membuat Sutijah terjaga. Kantuk telah merobohkan pertahanannya. Sutijah pun terlelap bersama anak-anaknya diselimuti dinginnya malam.

Sayup-sayup terdengar suara alunan ayat-ayat suci merasuk ke telinga Sutijah. Dengan mata amat berat dan tulang yang terasa nyeri karena semalaman dirinya duduk memangku kepala dua anaknya, Sutijah terbangun. Beranjak dari dipan bambu yang telah reot dirinya segera mempersiapkan diri untuk pergi ke sawah. Di hari yang masih gelap tersebut, Sutijah telah memulai harinya dengan membersihkan halamn depan rumahnya. Dari dalam rumah terdengar ada yang memanggil saat dirinya mempersiapkan air untuk keperluan mandi kedua anaknya. “Bu..Bu..Ibu...”, suara Tarmin anak pertama Sutijah memanggil dari dalam rumah. “Iyo le, iki lho ibu gek nimbo banyu, reneo nak”, jawab Sutijah. Dengan malas dan mata yang masih kantuk Tarmin berjalan menghampiri sang ibu. “Wuah wes tangi iki jagoane ibu, hayo le’ adus, wudhu dang sholat subuh”, kata Sutijah sambil mengelus kepala Tarmin. “Weteng ku iki lho bu, ono suara ne, jarene, luwe..luwe..luwe...mangan sego...sego...dhudhu sego jagung tapine...ngono bu”, keluh Tarmin. Meskipun melalui candaan, hati Sutijah tetap teriris.

Pedih rasanya ketika buah hati nya mengeluh lapar namun tak ada sesuap nasi di rumah yang mampu disantap. Namun tentu saja kesedihan dan kepiluan Sutijah tak boleh terbaca oleh Tarmin. Dengan senyuman dan ketawa kecil Sutijah menenangkan kegelisahan Tarmin. “Iyo le, dino iki kita semua akan makan nasi enak, bukan nasi jagung lagi, sambil menunggu ibu pulang dari sawah, tolong nanti carikan ibu daun singkong ya untuk tambahan lauk kita”, minta Sutijah. “Benar kah bu???Ibu tidak bohong kan? Horeee..hari ini libur makan sego jagung dan  puasa”, Tarmin kegirangan. Puasa adalah istilah yang sering dipakai oleh Sutijah kepada kedua anaknya untuk menahan lapar. Entah harus menggunakan alasan apa lagi selain puasa yang dapat dimengerti dan dijalani oleh kedua anaknya. “Sih...Ningsih...Ayo tangi sih, hari ini kita akan makan nasi sih...” Tarmin berteriak pada adiknya yang masih tertidur pulas. Sutijah hanya tertawa kecil dengan rasa pedih dalam hatinya, khawatir janjinya akan hanya menjadi harapan dan impian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...