Dalam
gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar
tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang
anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di
rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi
jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya
harus menunggu belas kasihan tetangganya.
Sebelum dua bulan yang telah dilalui
nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan
sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup,
namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk
makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara
langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah
Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang
terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah Sutijah karena
sesuatu hal. Sampai saat ini pun dirinya tak mengerti apa alasan Pak Karmo tak
lagi mengirimkan beras untuk keluarganya. Meskipun dalam hati Sutijah menolak
untuk terus menerus menerima bantuan orang lain, namun apa daya, tak ada lagi
yang bisa dilakukan Sutijah saat ini.
Kembali
Sutijah menenangkan anak-anaknya dengan nyanyian-nyanyian, berharap anaknya
kembali tidur dan bermimpi indah. Tetesan air mata Sutijah mengalir mengiringi
usapan tangan di kapala anaknya. Lampu teplek yang kian meredup tak melemahkan
tekad Sutijah untuk sejenank membuat anak-anaknya tetap terlelap. Dinding bilik
anyaman bambu yang menyisahkan lubang-lubang membuat semilir angin menusuk
tulang Sutijah. Seperti malam-malam pada sebelumnya, malam ini pun Sutijah
hanya mengenakan kebaya lusuh dengan bawahan kain jarik yang entah sampai kapan
bisa menemani kehidupan Sutijah. Lusuh dan beberapa tambalan pada kainnya
membuat Sutijah sering merasakan sakit pada paru-paru dan tulang. Mungkin ini
akibat dari dinginnya udara malam yang harus dihadapi Sutijah. Udara malam dan
kantuk yang begitu hebat menyerang Sutijah menguji kesabarannya untuk tetap
menjaga tidur anak-anaknya. Malam terus berlalu, suara jangkring tak lagi mampu
membuat Sutijah terjaga. Kantuk telah merobohkan pertahanannya. Sutijah pun terlelap
bersama anak-anaknya diselimuti dinginnya malam.
Sayup-sayup terdengar suara alunan ayat-ayat suci
merasuk ke telinga Sutijah. Dengan mata amat berat dan tulang yang terasa nyeri
karena semalaman dirinya duduk memangku kepala dua anaknya, Sutijah terbangun.
Beranjak dari dipan bambu yang telah reot dirinya segera mempersiapkan diri
untuk pergi ke sawah. Di hari yang masih gelap tersebut, Sutijah telah memulai
harinya dengan membersihkan halamn depan rumahnya. Dari dalam rumah terdengar
ada yang memanggil saat dirinya mempersiapkan air untuk keperluan mandi kedua
anaknya. “Bu..Bu..Ibu...”, suara Tarmin anak pertama Sutijah memanggil dari
dalam rumah. “Iyo le, iki lho ibu gek nimbo banyu, reneo nak”, jawab Sutijah. Dengan
malas dan mata yang masih kantuk Tarmin berjalan menghampiri sang ibu. “Wuah
wes tangi iki jagoane ibu, hayo le’ adus, wudhu dang sholat subuh”, kata
Sutijah sambil mengelus kepala Tarmin. “Weteng ku iki lho bu, ono suara ne,
jarene, luwe..luwe..luwe...mangan sego...sego...dhudhu sego jagung tapine...ngono
bu”, keluh Tarmin. Meskipun melalui candaan, hati Sutijah tetap teriris.
Pedih
rasanya ketika buah hati nya mengeluh lapar namun tak ada sesuap nasi di rumah
yang mampu disantap. Namun tentu saja kesedihan dan kepiluan Sutijah tak boleh
terbaca oleh Tarmin. Dengan senyuman dan ketawa kecil Sutijah menenangkan
kegelisahan Tarmin. “Iyo le, dino iki kita semua akan makan nasi enak, bukan
nasi jagung lagi, sambil menunggu ibu pulang dari sawah, tolong nanti carikan
ibu daun singkong ya untuk tambahan lauk kita”, minta Sutijah. “Benar kah
bu???Ibu tidak bohong kan? Horeee..hari ini libur makan sego jagung dan puasa”, Tarmin kegirangan. Puasa adalah
istilah yang sering dipakai oleh Sutijah kepada kedua anaknya untuk menahan
lapar. Entah harus menggunakan alasan apa lagi selain puasa yang dapat
dimengerti dan dijalani oleh kedua anaknya. “Sih...Ningsih...Ayo tangi sih,
hari ini kita akan makan nasi sih...” Tarmin berteriak pada adiknya yang masih
tertidur pulas. Sutijah hanya tertawa kecil dengan rasa pedih dalam hatinya,
khawatir janjinya akan hanya menjadi harapan dan impian.

Komentar
Posting Komentar