Lengkap dengan caping di kepala, masih dengan kebaya
lusuh di badannya, tak tertinggal jarik bertambal, dan sebuah arit di tangan, dirinya
memulai aktivitas yang rutin dikerjakannya. Sinar mentari yang
menyelinap dari lubang-lubang bilik bambu rumahnya, suara ayam berkokok yang
saling bersaut, dan tanah merah di depan rumahnya mengiringi langkah Sutijah
menuju sawah Pak Darmo. Darmo Sastrodiharjo, seorang bangasawan dan tuan tanah
yang memiliki lahan luas di desa Sutijah berada. Sebagai keturunan ningrat yang
hidup dalam masyarakat dengan kebudayan Jawa yang begitu kental, tentu saja
keberadaan Pak Darmo sangat dihormati dan disegani.
Tak seperti tuan tanah kebanyakan, Pak Darmo adalah sosok yang bersahaja, sangat bersahabat dengan buruh tani nya, dan membuka kesempatan luas kepada warga yang ingin bekerja di lahannya. Bagi Sutijah, Pak Darmo tetesan embun di antara keringnya ladang. Pak Darmo memberikan harapan kepada Sutijah untuk tetap bisa menghidupi keluarganya. Dari Pak Darmo-lah Sutijah mendapatkan pekerjaan sebagai buruh tani, meskipun berat tapi inilah perjuangan Sutijah.
Tak seperti tuan tanah kebanyakan, Pak Darmo adalah sosok yang bersahaja, sangat bersahabat dengan buruh tani nya, dan membuka kesempatan luas kepada warga yang ingin bekerja di lahannya. Bagi Sutijah, Pak Darmo tetesan embun di antara keringnya ladang. Pak Darmo memberikan harapan kepada Sutijah untuk tetap bisa menghidupi keluarganya. Dari Pak Darmo-lah Sutijah mendapatkan pekerjaan sebagai buruh tani, meskipun berat tapi inilah perjuangan Sutijah.
Seiring pekerjaan Sutijah makin banyak, terik matahari turut membakar kulit Sutijah. Namun
itu bukan halangan baginya. Di kala buruh tani lain tengah beristirahat, Sutijah tetap semangat menyelesaikan pekerjaannya di sawah. Tak ada lagi rasa lapar dan lelah dalam dirinya, cuman satu yang ia inginkan, membawa uang hari ini untuk membeli beras dan lauknya. Tak terasa kibasan arit yang dilayangkan begitu keras untuk memotong rumput ilalang di ladang mengenai kaki Sutijah. Tetes demi tetes darah keluar membasahi kakinya. Dibersihkannya darah dan luka di kakinya dengan air yang mengalir di saluran irigasi sawah. Tak lupa luka tersebut ia balurkan dengan daun singkong yang telah dihaluskan, Dirinya percaya daun singkong ampuh untuk mengobati luka. Dibalutnya luka tersebut dengan kain yang disobeknya dari kain jarik yang ia gunakan.
Meskipun telah coba ia obati, namun luka di kakinya tetap terasa perih. Tetapi Sutijah mencoba tak menghiraukannya meskipun rasa nyeri begitu terasa menjalar di kakinya. Tak mau mengulangi kesalahannya karena kerja terlalu tergesa-gesa, kini dirinya secara perlahan namun pasti menebas ilalang di ladang dengan aritnya. Dengan rasa pegal yang merayapi tangan dan pinggang, ditambah rasa nyeri luka di kaki karena terkena tebasan arit di ladang pelak tidak membuat Sutijah berhenti untuk bekerja.
Setelah dirinya menyelesaikan pekerjaannya di sawah dan di ladang, Sutijah menghadap Pak Darmo untuk diizinkan mendapatkan upah tambahan. Dirinya menawarkan jasa kepada Pak Darmo dengan membersihkan kandang ternak bebek miliknya. Kebetulan memang kandang ternak milik Pak Darmo hari ini sangat kotor. Segera Pak Darmo menyetujui permintaan Sutijah. Dengan cekatan Sutijah membersihkan kandang bebek tersebut. Bau kotoran bebek yang memenuhi lantai kandang tak dihiraukan oleh Sutijah. Hanya senyuman Tarmin dan Ningsih yang teringat dalam pikirannya.
Sutijah harus mencari upah tambahan, jika dirinya hanya mengandalkan upah sebagai buruh tani, sudah barang tentu tidak cukup. Bukan karena upah yang kecil, namun sudah 6 bulan ini upah Sutijah sebagian besar dipergunakan untuk membayar hutang mendiang suaminya pada rentenir. Selama itu pula, upah Sutijah sebagai buruh tani tak sepenuhnya dapat dirasakan. Tak pelak hanya lelah yang dirinya rasakan dan sedikit sisa uang untuk sekedar membeli nasi jagung serta minyak untuk lampu teplok.
Meskipun telah coba ia obati, namun luka di kakinya tetap terasa perih. Tetapi Sutijah mencoba tak menghiraukannya meskipun rasa nyeri begitu terasa menjalar di kakinya. Tak mau mengulangi kesalahannya karena kerja terlalu tergesa-gesa, kini dirinya secara perlahan namun pasti menebas ilalang di ladang dengan aritnya. Dengan rasa pegal yang merayapi tangan dan pinggang, ditambah rasa nyeri luka di kaki karena terkena tebasan arit di ladang pelak tidak membuat Sutijah berhenti untuk bekerja.
Setelah dirinya menyelesaikan pekerjaannya di sawah dan di ladang, Sutijah menghadap Pak Darmo untuk diizinkan mendapatkan upah tambahan. Dirinya menawarkan jasa kepada Pak Darmo dengan membersihkan kandang ternak bebek miliknya. Kebetulan memang kandang ternak milik Pak Darmo hari ini sangat kotor. Segera Pak Darmo menyetujui permintaan Sutijah. Dengan cekatan Sutijah membersihkan kandang bebek tersebut. Bau kotoran bebek yang memenuhi lantai kandang tak dihiraukan oleh Sutijah. Hanya senyuman Tarmin dan Ningsih yang teringat dalam pikirannya.
Sutijah harus mencari upah tambahan, jika dirinya hanya mengandalkan upah sebagai buruh tani, sudah barang tentu tidak cukup. Bukan karena upah yang kecil, namun sudah 6 bulan ini upah Sutijah sebagian besar dipergunakan untuk membayar hutang mendiang suaminya pada rentenir. Selama itu pula, upah Sutijah sebagai buruh tani tak sepenuhnya dapat dirasakan. Tak pelak hanya lelah yang dirinya rasakan dan sedikit sisa uang untuk sekedar membeli nasi jagung serta minyak untuk lampu teplok.
Langit sore telah memanggil Sutijah untuk beranjak
pulang. Lelah merajai tiap sendi tubuhnya. Peluh keringat, tubuh, dan pakaian
yang lusuh mengantar Sutijah pulang ke rumah. Masih dengan perlengakapan yang
sama seperti di pagi hari, Sutijah menggenggam sebuah bungkusan yang akan
menjadi hadiah tuk anak-anaknya di hari itu. Sutijah bersyukur, kerja kerasnya di sawah, ladang, dan di kandang bebek milik Pak Darmo cukup untuk membeli beras, tempe, dan sayuran. Tiap langkahnya Sutijah berdoa
agar Tuhan tak melupakannya, Tuhan tetap mendengar harapannya, dan Tuhan tetap
menjaga kedua anaknya.
Belum selesai dirinya membayangkan betapa bahagianya anak-anaknya melihat apa yang ia bawa, langkah Sutijah tiba-tiba terhenti. Tepat di halaman depan rumah, Sutijah hanya terdiam melihat pemandangan yang ada di depan mata nya. Tetesan air mata Sutijah tak terbendung. Bulir demi bulir air mata itu jatuh membasahi pipi. Lemas sekujur tubuh Sutijah, tak ayal genggaman bungkusan berisi beras untuk kedua anaknya terhempas ke tanah. Seketika senyum riang yang menemaninya dari sawah hingga rumah menghilang. Suara nyanyian senandung untuk kedua anaknya berubah menjadi suara parau yang tak jelas, menggumamkan kata-kata yang tak beraturan.
Langkah Sutijah mulai mendekati pemandangan di depan matanya. Ribuan tanya menghinggapi pikiran Sutijah. Emosi dan perih di hati menyelimuti diri Sutijah. Namun apa yang dirasakannya kini tak mampu menjawab apa yang terjadi dengan keluarga dan rumahnya. Terlihat kepulan asap masih menyelimuti pandangannya. Rumah Sutijah kini telah menjadi abu dan puing-puing. Entah siapa yang membakarnya, entah dimana kedua anaknya, entah mengapa peristiwa ini harus terjadi padanya.
Belum selesai dirinya membayangkan betapa bahagianya anak-anaknya melihat apa yang ia bawa, langkah Sutijah tiba-tiba terhenti. Tepat di halaman depan rumah, Sutijah hanya terdiam melihat pemandangan yang ada di depan mata nya. Tetesan air mata Sutijah tak terbendung. Bulir demi bulir air mata itu jatuh membasahi pipi. Lemas sekujur tubuh Sutijah, tak ayal genggaman bungkusan berisi beras untuk kedua anaknya terhempas ke tanah. Seketika senyum riang yang menemaninya dari sawah hingga rumah menghilang. Suara nyanyian senandung untuk kedua anaknya berubah menjadi suara parau yang tak jelas, menggumamkan kata-kata yang tak beraturan.
Langkah Sutijah mulai mendekati pemandangan di depan matanya. Ribuan tanya menghinggapi pikiran Sutijah. Emosi dan perih di hati menyelimuti diri Sutijah. Namun apa yang dirasakannya kini tak mampu menjawab apa yang terjadi dengan keluarga dan rumahnya. Terlihat kepulan asap masih menyelimuti pandangannya. Rumah Sutijah kini telah menjadi abu dan puing-puing. Entah siapa yang membakarnya, entah dimana kedua anaknya, entah mengapa peristiwa ini harus terjadi padanya.

Komentar
Posting Komentar