Langsung ke konten utama

Tangisan Sutijah - bagian 1 (2)



Lengkap dengan caping di kepala, masih dengan kebaya lusuh di badannya, tak tertinggal jarik bertambal, dan sebuah arit di tangan, dirinya memulai aktivitas yang rutin dikerjakannya. Sinar mentari yang menyelinap dari lubang-lubang bilik bambu rumahnya, suara ayam berkokok yang saling bersaut, dan tanah merah di depan rumahnya mengiringi langkah Sutijah menuju sawah Pak Darmo. Darmo Sastrodiharjo, seorang bangasawan dan tuan tanah yang memiliki lahan luas di desa Sutijah berada. Sebagai keturunan ningrat yang hidup dalam masyarakat dengan kebudayan Jawa yang begitu kental, tentu saja keberadaan Pak Darmo sangat dihormati dan disegani.

Tak seperti tuan tanah kebanyakan, Pak Darmo adalah sosok yang bersahaja, sangat bersahabat dengan buruh tani nya, dan membuka kesempatan luas kepada warga yang ingin bekerja di lahannya. Bagi Sutijah, Pak Darmo tetesan embun di antara keringnya ladang. Pak Darmo memberikan harapan kepada Sutijah untuk tetap bisa menghidupi keluarganya. Dari Pak Darmo-lah Sutijah mendapatkan pekerjaan sebagai buruh tani, meskipun berat tapi inilah perjuangan Sutijah.

Seiring pekerjaan Sutijah makin banyak, terik matahari turut membakar kulit Sutijah. Namun itu bukan halangan baginya. Di kala buruh tani lain tengah beristirahat, Sutijah tetap semangat menyelesaikan pekerjaannya di sawah. Tak ada lagi rasa lapar dan lelah dalam dirinya, cuman satu yang ia inginkan, membawa uang hari ini untuk membeli beras dan lauknya. Tak terasa kibasan arit yang dilayangkan begitu keras untuk memotong rumput ilalang di ladang mengenai kaki Sutijah. Tetes demi tetes darah keluar membasahi kakinya. Dibersihkannya darah dan luka di kakinya dengan air yang mengalir di saluran irigasi sawah. Tak lupa luka tersebut ia balurkan dengan daun singkong yang telah dihaluskan, Dirinya percaya daun singkong ampuh untuk mengobati luka. Dibalutnya luka tersebut dengan kain yang disobeknya dari kain jarik yang ia gunakan. 

Meskipun telah coba ia obati, namun luka di kakinya tetap terasa perih. Tetapi Sutijah mencoba tak menghiraukannya meskipun rasa nyeri begitu terasa menjalar di kakinya. Tak mau mengulangi kesalahannya karena kerja terlalu tergesa-gesa, kini dirinya secara perlahan namun pasti menebas ilalang di ladang dengan aritnya. Dengan rasa pegal yang merayapi tangan dan pinggang, ditambah rasa nyeri luka di kaki karena terkena tebasan arit di ladang pelak tidak membuat Sutijah berhenti untuk bekerja.

Setelah dirinya menyelesaikan pekerjaannya di sawah dan di ladang, Sutijah menghadap Pak Darmo untuk diizinkan mendapatkan upah tambahan. Dirinya menawarkan jasa kepada Pak Darmo dengan membersihkan kandang ternak bebek miliknya. Kebetulan memang kandang ternak milik Pak Darmo hari ini sangat kotor. Segera Pak Darmo menyetujui permintaan Sutijah. Dengan cekatan Sutijah membersihkan kandang bebek tersebut. Bau kotoran bebek yang memenuhi lantai kandang tak dihiraukan oleh Sutijah. Hanya senyuman Tarmin dan Ningsih yang teringat dalam pikirannya.

Sutijah harus mencari upah tambahan, jika dirinya hanya mengandalkan upah sebagai buruh tani, sudah barang tentu tidak cukup. Bukan karena upah yang kecil, namun sudah 6 bulan ini upah Sutijah sebagian besar dipergunakan untuk membayar hutang mendiang suaminya pada rentenir. Selama itu pula, upah Sutijah sebagai buruh tani tak sepenuhnya dapat dirasakan. Tak pelak hanya lelah yang dirinya rasakan dan sedikit sisa uang untuk sekedar membeli nasi jagung serta minyak untuk lampu teplok.

Langit sore telah memanggil Sutijah untuk beranjak pulang. Lelah merajai tiap sendi tubuhnya. Peluh keringat, tubuh, dan pakaian yang lusuh mengantar Sutijah pulang ke rumah. Masih dengan perlengakapan yang sama seperti di pagi hari, Sutijah menggenggam sebuah bungkusan yang akan menjadi hadiah tuk anak-anaknya di hari itu. Sutijah bersyukur, kerja kerasnya di sawah, ladang, dan di kandang bebek milik Pak Darmo cukup untuk membeli beras, tempe, dan sayuran. Tiap langkahnya Sutijah berdoa agar Tuhan tak melupakannya, Tuhan tetap mendengar harapannya, dan Tuhan tetap menjaga kedua anaknya.

Belum selesai dirinya membayangkan betapa bahagianya anak-anaknya melihat apa yang ia bawa, langkah Sutijah tiba-tiba terhenti. Tepat di halaman depan rumah, Sutijah hanya terdiam melihat pemandangan yang ada di depan mata nya. Tetesan air mata Sutijah tak terbendung. Bulir demi bulir air mata itu jatuh membasahi pipi. Lemas sekujur tubuh Sutijah, tak ayal genggaman bungkusan berisi beras untuk kedua anaknya terhempas ke tanah. Seketika senyum riang yang menemaninya dari sawah hingga rumah menghilang. Suara nyanyian senandung untuk kedua anaknya berubah menjadi suara parau yang tak jelas, menggumamkan kata-kata yang tak beraturan.

Langkah Sutijah mulai mendekati pemandangan di depan matanya. Ribuan tanya menghinggapi pikiran Sutijah. Emosi dan perih di hati menyelimuti diri Sutijah. Namun apa yang dirasakannya kini tak mampu menjawab apa yang terjadi dengan keluarga dan rumahnya. Terlihat kepulan asap masih menyelimuti pandangannya. Rumah Sutijah kini telah menjadi abu dan puing-puing. Entah siapa yang membakarnya, entah dimana kedua anaknya, entah mengapa peristiwa ini harus terjadi padanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...