Cangkir kesayangan berhias
ayam jago tercium aroma biji kopi ala café. Melengkapi pagi sendu. Menarawang
jalan lengang agak basah depan rumah. Sesekali terlihat ibu menggandeng anaknya
antar ke sekolah. Berkalung kantuk dan malas si anak melangkah. Ku sunggingkan
senyum ke arah mereka. Lambaian tangan tak tertinggal, berharap si anak
mempercepat langkahnya. Seruput kopi pagi aroma biji ala café ciptakan nada
nikmat. Terasa pas, tidak manis, sedikit pahit. Sedikit panas, ciptakan tenang
yang sederhana. Daun kelapa milik tetangga menari malu-malu manjakan pagi. Tak
rela berlalu begitu cepat, ku abadikan dalam sebuah coretan. Tak begitu
sempurna, tak ada kesan di dalamnya.
Koran berdampingan dengan
cangkir kesayangan berhias ayam jago yang masih tercium aroma biji kopi ala
café. Koran pagi yang tak menarik tuk dibaca. Tak bosan terus
menggoda. Tiap lembar pamer kabar. Dari sudut balkon jamahi kata-katanya. Sedikit
terpaksa, tapi tetap harus dibaca. Berita terlihat abu-abu. Bukan hitam atau
putih. Samar, sulit cari perbedaannya. Kadang artis lebih penting dari agama.
Kadang politik lebih seksi dari ronggeng panggung. Kadang opini lebih sah
daripada hukum. Kadang iklan lebih nikmat dari secangkir kopi.
Bagi yang gila, lebih baik
pilih tidur pulas meski ditampar matahari. Hidup dalam bayang mimpi terasa
lebih asik. Pilih yang kita suka, buang dalam tong sampah ketika bosan. Menolak
alur kehidupan, sejalan imajinasi beriring hasrat, lalu buang ketika bosan.
Terus berulang, tanpa batas. Lebih baik menjadi gila. Pagi, siang, senja, atau
malam dapat diputar sesuka hati, tanpa alur. Bisa saja ku buat kopi pagi
bersuara deburan ombak. Bisa saja coretan nyiur melambai bersuara serigala.
Bisa saja ku buat koran pagi terpancar rona rembulan. Bisa saja itu terjadi, jika
ku pilih menjadi gila.
Namun itu hanya jika dan
jika. Nyatanya ku tetap nikmati alur cerita koran. Aparat bentrok dengan buruh,
buruh ramai-ramai keroyok teman sesama buruh, suami tertangkap basah serong oleh selingkuhannya,
istri bermain gila dengan bosnya, siswa SMP tertangkap tangan membunuh
pamannya, pengedar ganja mati di selokan, artis papan atas cerai dengan teman
kost-annya, pendangdut terkenal mati setelah menenggak obat kecantikan, mantan
atlet terpaksa mengemis untuk biaya hidup. Ratusan kata dipilih demi menarik
minat. Judul dihias begitu cantik, wali gambaran kehidupan.
Terlena kabar di koran.
Lalat ikut menolak alur kehidupan. Memilih mati dalam genangan. Genangan di
dalam cangkir kesayangan berhias ayam jago yang masih tercium aroma biji kopi
ala café. Benamkan jasad lalat beserta sayap yang mengkilat. Tanggung setengah
gelas. Lanjut nikmati hingga ampas.
Pagi sendu menyikir.
Terbang bersama aroma biji kopi ala café. Cangkir kesayangan berhias ayam jago
merenung. Mengira-ngira apa lagi yang akan memenuhi tubuhnya. Belum cukup kopi,
mungkin ramuan temulawak atau jahe menggenang temani lamunan.
Pagi sendu ku rindu. Baru sebentar kasih sederhananya tertuang. Meski rusak karna koran terus memicu nafsu. Seketika terbang lintasi waktu. Tinggalkan coretan di sudut balkon. Ku simpan coretan penuh rupa. Lekukan sarat makna. Seperti kopi panas menuju dingin. Ku habiskan walau telah dingin dan pahit. Bukan rasa pahit yang dicari, makna pahit yang dipelajari. Seperti pagi sendu yang ku rindu. Kan ku nanti, meski terasa begitu sendu.

Komentar
Posting Komentar