Langsung ke konten utama

Ah..biarlah...



Hujan sore membawa nada bimbang
bersama rasa dingin menghujam
tak lupa angin ikut serta
ciptakan gerakan sempurna runtuhan
bendungan langit yang tak lagi kuat menopang

Masih di halte yang sama
Masih memandang lampu jalanan yang sama
Masih mencium aroma got yang sama
Masih mendengar ocehan pedagang yang sama

Semua nya masih tampak sama…

Ah…biarlah…
Meski semua masih tampak sama
pun mereka tak bosan di tempat yang sama

Langit merah sedikit gelap
Tergambar mirip flannel yang ku kenakan sejak kemarin
Sebuah kebetulankah??
Atau memang langit diam-diam menyelaraskan?

Ah…biarlah….
Kebetulan atau tidak, hujan juga tidak peduli
pun peduli, pasti hujan berwarna sama dengan flannel
sedikit sobek pada ketiak
yang ku kenakan sejak kemarin

Ku tengok satu persatu wajah gelisah di halte
Guratan wajah yang terlalu resah
Melebihi keresahan penjajak es cendol
berteduh di tempat yang sama
dalam hatinya mungkin mengutuk
tiap butiran hujan yang turun

Tetap tenang meski dagangannya masih melimpah
Tetap senyum meski rezeki enggan menghampirinya
Guratan kesabarannya mengalahkan goresan karat dinding halte

Terasa basah telapak kaki dalam sepatu
Air tak mampu menahan nafsu
tetap masuk membanjiri kaki yang tampak malu

Ah…biarlah….
mungkin rindu air tak terbendung lagi
tak sabar bertemu kaki yang telah lama bersembunyi
pun kaki basah, tak perlu resah
di seberang jalan penjajak koran berteduh
tak mampu sembunyikan telapak kaki

Dua jam berlalu
langit belum puas membasahi jalan Jakarta
kibaran payung bertebaran di hadapan kini
berlomba menarik perhatian wajah yang resah

bukan hanya payung, kini asap rokok pun ikut meramaikan
sesekali ku hirup kepulan asapnya
meski hanya numpang lewat, hapal ku aromanya
aroma rokok kakek yang tertinggal diingatan

Ku ikuti sumber asap
benar saja, kepulan tebal keluar dari mulut kakek
tumpukan air mineral mendampinginya
Terlihat dari tekstur kulitnya tak lagi kencang
tua ku nilai kakek ini
Mungkin tuanya mengalahkan goresan karat dinding halte

Sekali lagi goresan karat dinding halte menelan kekalahan…

Ku tengok lagi wajah-wajah resah tadi
Satu persatu mulai memaksa kehendak diri
Coba ikhlas lalu menipu diri
terima hujan bagai mandi
meski kutukan terucap tiada henti

Seperti aku tetap menipu langit
Coba sabar dalam genangan
Coba mendekap hujan meski bimbang
Coba bersyukur meski kesal
Kesal air turun deras tanpa berbilang

Ah…biarlah…
Mungkin langit juga tak mendengarnya
Mungkin langit juga tak melihatnya
pun langit merasa, langit tetap menipu diri
menipu wajah-wajah resah
yang tak mampu membedakan tabah dengan pasrah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...