Langsung ke konten utama

Sanubari

senja datang gantikan rona terang cahaya
dekati malam dekap wajah pekerja
ini bukan sekedar pergantian masa


senja datang selimuti murung tanah gersang
coretan jingga hantarkan sendi meregang
alur roda sepeda melaju lebih kencang


tiap jarak jalan hapuskan keluh kesah
lukiskan senyum bocah dalam balutan ikhlas
membuka pelukan, sembuhkan lelah

teringat kemarin gerak lincah mu
getarkan perut ibu
bergerak tiada henti
menghibur ibu tuk mengganti kecemasan
menemani ibu tuk membasuh kerinduan




teringat kemarin telapak tangan
mengusap lembut di perut ibu
kan jadi selimut hangat beri ketenangan

terasa detak jantung mu beri semangat
hembuskan napas yang terasa begitu lekat
tiap gerak mu menggoda
lelah dan keringat hilang tak berbekas

desiran angin iringi langkah pulang
sekali lagi…roda sepeda ku laju lebih cepat
tiap jarak terlewati menyisahkan angan
tuk berjumpa, bercerita, menikmati lukisan langit senja


hikayat…
sayup sayup ku sebut dirimu
lebih dari sekedar nama atau kata
terkandung doa dan cita

hikayat…
ku sebut dirimu dalam doa
kelak dewasa kau tulis cerita panjang
kisah penuh kesan sarat makna
gambaran alam semesta
terkenang dalam ingatan penghuninya

hikayat…
bangga ku sebut nama mu
layaknya dongeng di negeri awan
kehadiran mu dinanti
melengkapi kebahagiaan kami

mungkin pandawa kurawa bersorak
kegirangan di khayangan
melihat hadir mu damai di hati
ku lengkapi dengan rasa syukur di sanubari
kelak nanti tiada rasa angkuh diri

bukan sekedar penerus generasi
jadilah sahabat di hari tua kami
yang selalu setia menemani
berbagi cerita berbagi mimpi 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...