Rembulan tak
bosannya bertengger pada langit gelap
Suara dari
surau memecah dekapan subuh
Anak kecil meringkuk
di tempat yang sama dari semalam
Emperan toko
menjadi tempat yang paling mewah baginya
Penjual sayur
mulai memamerkan dagangannya
Kuli panggul
merapihkan baju dinasnya
Knalpot angkot
meraung menyaingi suara adzan
Wajah-wajah
gusar, senang, pasrah, dan malas
bercampur
hiruk pikuk nyamuk dan lalat usai berpesta
Tak kalah
suara calo bis antar kota memeriahkan
Bersambut penjajak
koran menjual berita murahan
Meski tak peduli,
gembel di ujung jalan mencoba cari kesibukan
entah berapa
rupiah yang telah dikumpulkannya demi sebatang kretek
membuat
kepulan asap sambil tertawa, lalu bangga
“dasar
gembel”
“tak tahu
diri, mengumpulkan receh seharian hanya untuk kretek”, pikirku…
Rumah makan
dengan menu alakadarnya mulai menggoda
Mungkin menu
tadi malam, mungkin juga menu kemarin malam, mungkin...
Wajah
setengah mengantuk, penjaga toilet membuka hartanya
entah berapa
ratus orang yang mendatanginya, mungkin sudah jutaan orang
Hampir satu
jam diriku berdiri menunggu kuda besi
Kuda besi
yang entah berapa ratus orang tunggangi, mungkin jutaan…entahlah
Sedikit reot
kursinya, karatan menyelimuti semua sisi
Kuda besi
tua yang setia, lebih tua dari pengendaranya….
“Om seribu
om”, suara gembel ujung jalan meratap di pinggirku
“Ah..gembel
ini lagi”, pikirku
“Om buat
makan om”, lirihnya
“Seribu pasti untuk sebatang kretek esok pagi”, pikirku
Berlalu
meninggalkan gembel kaki ini melangkah
Tak sudi seribu
ku beri tuk kretek si gembel
Terlihat
lampu sorot dari kejauhan
Tak salah
lagi kuda besi setia ku telah datang
Ku hampiri kuda besi setiaku
Ku ambil
posisi pojok belakang
Sambil mendengarkan
pengamen berdendang nada sumbang iwan fals
kunyalakan kretek, membuat kepulan asap sambil
tertawa, lalu bangga….

Komentar
Posting Komentar