Langsung ke konten utama

Sedikit Goresan yang Gamang

Berkah penulis begitu terasa ketika melamunkan sesuatu tanpa disadari telah tercipta sebuah ukiran tulisan yang terkadang berangkat dari hal sederhana. Apa yang dipikirkannya, yang dirasaknnya, mampu menjadi sebuah tulisan tanpa harus berpikir pantaskah tulisan tersebut untuk dibaca orang lain. Penulis mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Sehingga tak dapat dipungkiri, penulis memiliki dunia sendiri. Dunia yang tercipta dari semua fenomena yang datang dan pergi. Sehingga terkadang seorang penulis seakan tidak memiliki beban pikiran tentang hidupnya. Karena apa yang ia rasakan dan pikirkan telah tertuang dalam sebuah tulisan. Hidupnya terasa lebih free dan happy. Berangkat dari fenomena dan peristiwa yang ia rasakan, baik buruk atau baik, memberikan ruang tersendiri dalam pikirannya untuk lebih sensitif dan empati terhadap apa yang ia lihat.

Penulis memiliki sisi misterius yang amat dalam. Kebanyakan orang mudah mengenali sosoknya dari karyanya. Disaat yang sama juga, kebanyakan orang tidak tahu apa yang penulis rasakan yang disimpan dalam buku yang berada amat terdalam di dirinya. Sandiwara kah?atau berpura-pura? Bukan keduanya. Penulis telah mencurahkan semua yang ia rasakan, namun penulis memiliki sisi yang tak tersentuh hingga dirinya sendiri yang membuka lembar demi lembar dari buku yang disimpan dalam dirinya tersebut.

Meskipun begitu ada satu hal yang paling dibenci oleh penulis. Penulis selalu dianggap serba tahu. Penulis hanya menuliskan apa yang ada di dalam pikirannya. Menuliskan apa yang ia lihat dan rasakan, tertuang berdasarkan sudut pandangnya. Ide yang terlahir dari penulusuran, pengamatan, dan keyakinan bahwasannya hal terebut benar adanya. Bukan ide yang datang dari sebuah mimpi berubah menjadi karya, maha karya yang semua orang ingin membacanya. Penulis bukan lah Tuhan yang maha tahu, penulis bukanlah cenayang yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di esok hari, dan penulis bukanlah pesulap yang mampu merubah keadaan. Penulis hanyalah insan yang berjalan dan berkelana dari kebimbangan serta kegelisahan untuk menuju sebuah keseimbangan. Penulis hanyalah pribadi yang gamang, mencoba menentukan arah dimana dirinya mampu menemukan makna yang tersirat. Penulis hanya mampu memberikan isian yang akan mengisi kekosongan dalam pikiran dan hati pembacanya. 

Jangan pernah menuhankan penulis dan karyanya
sebab tulisan hanyalah goresan dari kegamangan

Jangan pernah menuhankan penulis dan karyanya
sebab tulisan hanyalah coretan dari kebimbangan

cukup bagimu untuk membaca, renungkan, dan jadikanlah pembelajaran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...