Terlintas
dalam sebuah lamunan ketika teringat perkataan dari beberapa teman tentang
pilihan hidup. Ada yang bilang hidup harus melihat kenyataan, tuntutan
kebutuhan hidup di masa mendatang akan jauh lebih berat. Sehingga bekerja menjadi
pegawai Bank atau perusahaan besar lainnya adalah sebuah kewajaran. Demi
menghimpun dana untuk kedepan, maka dari sekarang bekerjalah dengan upah yang
lumayan besar. Di sisi lain ketika ada seorang teman yang mulai meniti karir
dengan memilih jalur yang agak “berbeda”, entah sebagai pejuang LSM, jurnalis
sayap kiri, ataupun menggabungkan dirinya ke dalam komunitas sosial selalu saja
dianggap tidak waras. Ini sebuah kenyataan yang memang tidak selalu begitu
keadaannya. Orang-orang diluar sana yang hidup “normal” menganggap orang-orang
yang menjalankan hidupnya untuk mengungkit kematian atau hilangnya aktivis di
masa orde baru, membela hak buruh, mencibir pemerintah yang kusut, dan berbagai
macam kegiatan yang berlabel sosial politik selalu dianggap IDEALIS. Dan tentu
saja dikebanyakan kondisi, insan tersebut selalu jauh dari hingar bingar
pertemanan dan dianggap aneh. Bukan karena menjauh, tapi dijauhkan, karena
cenderung dianggap membosankan dan selalu hidup dalam sebuah koridor kritik dan
tidak logis. Padahal itulah kenyataan yang sebenarnya.
Ketika
berbicara masalah ketimpangan akan kemapanan dianggap tidak rasional, ketika
berpikir sederhana dianggap tidak optimis, ketika mengungkapkan realitas sosial
dianggap membosankan. Apa salahnya ketika kita berbicara tentang kesadaran
bahwa ada yang salah dengan negara ini? Apa salahnya ketika kita berbicara
masalah buruknya hidup tetangga kita yang menjadi buruh pabrik? Apa salahnya
ketika kita menuntut keadilan untuk tetangga kita yang mati diamuk massa karena
tertangkap tangan mencuri sandal di masjid? Apa salahnya ketika kita menuntut
anak menteri yang melenggang bebas setelah menabrak mobil orang lain hingga
jatuh korban? Apa salahnya ketika kita marah melihat banyak pembangunan gedung
tinggi padahal daerah sekitar kita penuh dengan luka penggusuran? Apa salahnya
hidup idealis? Perlu diasingkan layaknya penderita penyakit menular? Perlukah
dijauhkan layaknya seonggok daging yang membusuk? Haruskah pikiran seorang
idealis dimatikan karena kesadarannya dianggap membosankan atau berbahaya?
Hinakah hidup idealis?
Cibiran
dan tawa selalu ada tiap kali insan ini berbicara mengenai hilangnya jiwa
Marsinah, Wiji Thukul, ataupun Munir misalnya. Kalau pun diperhatikan isi
omongannya, maksimal 10 menit kagum dan selanjutnya lawan bicara akan membahas
hal lain yang lebih “rasional”. Terkadang kita lupa dan tidak sadar bahwa
diluar sana banyak peristiwa yang sudah terlewati tanpa mengerti apa dan
bagaimana hal tersebut terjadi. Banyak
yang tak terungkap, banyak yang sengaja disembunyikan, dan banyak diantara kita
yang terlena dengan segala macam bentuk hingar bingar hiburan. Membuat kita
lupa bagaimana sejarah hari ini Indonesia masih tetap menjadi negara yang
berdaulat. Tergerak dari perasaan yang kurang nyaman dari orang-orang
disekitar, ada sebuah pertanyaan timbul, kenapa idealis dianggap berbeda
seakan-akan seperti orang jalang? Telah banyak pertanyaan yang muncul seperti
yang diungkapkan pada alenia sebelumnya, insan ini berpikir mungkinkah dirinya
yang terlalu banyak mencampuri urusan diluar kehidupan pribadinya?
Ketika
insan membicarakan kisah Wiji Thukul, seorang aktivis yang hilang pada masa
orde baru, insan ini dianggap terlalu idealis dan dianggap melakukan hal yang
sia-sia. Padahal apabila kita mau menoleh sedikit ke belakang, kisah yang hanya
menjadi catatan kaki dari begitu besarnya sebuah pesta reformasi, ada jasa yang
megah untuk kita kenang. Melalui syairnya, celotehannya, dan kepiawaiannya
dalam seni peran membuka kesadaran masyarakat Indonesia pada saat itu untuk
melakukan perubahan. Tanpa iming-iming sebagai pemimpin, tanpa sepersenpun uang
yang beliau dapati dari orasinya, namun keikhlasan untuk menuntut perubahan
membawa Indonesia yang demokratis kini terwujud. Tapi sekali lagi kita lupa
akan hal tersebut. Sudah mulai terkikis dewasa ini menjadi insan yang merasakan
ketimpangan yang ada. Semua sibuk demi kehidupan yang tersier.
Thukul
sang orator ulung hilang dan kini kita pun lupa, bahkan ada yang tidak mengenal
dirinya. Jangankan lupa, mungkin kebanyakan orang tidak peduli dengan perawakan
yang kurus, kumel, bicaranya cadel tersebut. Bukan hanya Wiji Thukul, masih
banyak aktivis yang berjuang meruntuhkan kediktatoran orde baru dan
memperjuangkan perubahan lenyap dimakan zaman. Munir salah satunya, yang harus
meregang nyawa akibat diracun, hingga kini tidak ada penyelesaian yang pasti.
Hukum berjalan untuk tersangka pembunuhan, tapi mengungkap busuknya dari dalang
pembunuhan tersebut terkubur di liang yang sangat dalam seiring racun dunia
hiburan menyesakan dada dan pikiran masyarakat Indonesia kini. Sekarang hidup
terkenal mengumpulkan banyak uang lebih penting dibanding mengungkit kembali
kasus yang telah lama mati. Kini kasus perceraian atau pernikahan artis,
persilngkuhan pejabat, hingga perseturuan antar pengacara atau dukun sekalipun
lebih menarik dibanding menulusuri busuknya jasad penuntut keadilan. Miris!!
Sinis?
Memang terasa begitu sinis, namun itulah
kenyataannya. Kita disibukan dengan berita yang lebih ringan, tak perlu
menggunakan emosi yang berapi-api, tak perlu memaksakan diri untuk raga ini
tergerak keluar dari rutinitas yang ada, cukup dengan sedikit senyuman atau
tertawaan dan sedikit komentar pedas atau kekaguman, satu berita terlewati dan
pindahlah ke berita berikutnya. Semakin jauh dan lupa dengan persoalan
pembungkaman ide yang bergereliya di otak dan pikiran para pejuang jalanan.
Pejuang jalanan dengan coretan dan celotehan yang membuat pembaca dan
pendengarnya resah. Resah akan isi coretan dan celotehan, yang dikhawatirkan
mengganggu gerak geriknya, mengancam jabatannya, mengusik dosanya, dan
mengungkap kebusukannya.
Seberapa
pedulikah kita melihat aksi pembungkaman dan diskriminasi sosial terhadap insan
idealis? Insan yang melihat kemapanan dari sisi yang berbeda, bukan harta, tapi
kebebasan bersuara, membuat kesadaran akan ketimpangn dan ketidakadilan, mengungkap
dosa pemimpin yang terlupakan, dan membangkitkan jiwa yang terpinggirkan.
Mungkin insan tersbut ada disekitar kita sekarang, tanpa kita peduli dan mau
mendengar apa yang ingin ia ungkapkan serta perjuangkan. Mungkin insan tersebut
ada diantara kita, membaur ditengah-tengah kehidupan kita dengan bersandiwara mengikuti
apa yang dunia ini inginkan. Mungkin insan tersebut adalah teman atau salah
satu keluarga kita yang terpaksa mematisurikan idalisnya demi bisa sedikit
dianggap atau dilihat sebagai pribadi yang “normal”. Namun dimanapun insan itu
berada, lihat dan dengarlah ia sebagai manusia seutuhnya. Jangan pernah
merasakan kehadirannya dengan rasa kasihan atau berpura-pura peduli, karena itu
tidak diperlukannya. Insan idealis akan tetap hidup dan terus hidup meskipun
tidak ada yang memperdulikannya, meskipun raga nya dimatikan, dan meskipun
suara nya tak didengarkan.
Biarlah dianggap hina atau jalang
namun insan idealis percaya apa yang diperjuangkannya adalah hal yang mulia
Tak perlu penghormatan atau tanda jasa pahlawan
insan idealis mampu menghargai dirinya sendiri
untuk tetap bersuara dan menulis kebenaran
Dikenang atau tidak, bukanlah hal yang penting
karena cepat atau lambat insan idealis tanpa diasadari akan “dihilangkan”
Tak perlu batu nisan atau karangan bunga untuk menandai kematiannya
sebab tembok, kertas, dan dedaunan kering akan merekam gerak geriknya
Tak perlu banyak kalimat untuk mengenal sosok insan idealis
dimanapun dan siapapun dirinya, hanya ada satu kata yang selalu hidup, yaitu
LAWAN!!!
namun insan idealis percaya apa yang diperjuangkannya adalah hal yang mulia
Tak perlu penghormatan atau tanda jasa pahlawan
insan idealis mampu menghargai dirinya sendiri
untuk tetap bersuara dan menulis kebenaran
Dikenang atau tidak, bukanlah hal yang penting
karena cepat atau lambat insan idealis tanpa diasadari akan “dihilangkan”
Tak perlu batu nisan atau karangan bunga untuk menandai kematiannya
sebab tembok, kertas, dan dedaunan kering akan merekam gerak geriknya
Tak perlu banyak kalimat untuk mengenal sosok insan idealis
dimanapun dan siapapun dirinya, hanya ada satu kata yang selalu hidup, yaitu
LAWAN!!!
Komentar
Posting Komentar