Langsung ke konten utama

Kopi, Secangkir Harapan



Kopi, merupakan komoditas yang tidak asing lagi bagi kita semua. Terlepas dari jenis dan kemasannya, kopi sudah menemani masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Bukti yang paling nyata, yaitu berdirinya Warung Kopi Ake. Kedai kopi tertua yang telah berdiri sejak tahun 1821 ini telah menyajikan sajian kopi yang begitu khas untuk masyarakat Belitung. Tak dapat dipungkiri, fase tersebut menjadi sebuah tren baru menikmati sajian kopi pada masa itu. Kemunculan Warung Kopi Ake pun diikuti oleh kemunculan kedai-kedai kopi lainnya di berbagai daerah. Kondisi tersebut mengindikasikan, bahwa budaya ngopi memang telah menjadi salah satu budaya bangsa ini yang telah terpelihara sejak zaman dahulu kala.
Mungkin dari kita semua tahu, bahwa kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang dapat diolah menjadi sajian nikmat nan bermanfaat bagi tubuh. Namun, apakah hanya sampai di situ pengetahuan tentang kopi? Jika menilik sejarahnya, kopi merupakan “harta karun” yang ditinggalkan oleh kolonial Belanda di bumi pertiwi Indonesia. Tak dapat dipungkiri Belanda mampu membangun negaranya pada dahulu kala dari hasil panen rempah dan perkebunan, salah satunya kopi, yang ditanam secara paksa di Indonesia dan dijual melalui kamar dagang VOC.
Berbagai jenis kopi dengan segala ekperimen cara tanamnya, akhirnya Belanda memperoleh biji kopi unggulan yang cocok di tanam di tanah Indonesia. Arabika dan robusta merupakan salah dua yang paling cocok serta memiliki penggemar yang besar di Indonesia, hingga kini. Tak perlu dibahas apa perbedaan dan keunggulan masing-masing jenis kopi tersebut. Namun, yang perlu kita pahami adalah kedua jenis tersebut telah mampu menghidupi jutaan rakyat Indonesia. Jika kita telusuri hingga hulunya, kopi bukan sekadar komoditas nan seksi di pasaran, tetapi telah menjadi sumber penghidupan bagi petani kopi. Pada beberapa kesempatan, ketika saya melakukan peliputan ke daerah sentra kopi, saya selalu menemukan cerita yang begitu menyentuh hati tentang kopi. Ada keluarga yang mampu menyekolahkan anaknya melalu kopi. naik haji dari hasil panen kopi, bahkan berhasil membangun rumah dari kopi.
Begitu berharganya kopi, membuat masyarakat di beberapa daerah memperlakukan kopi seperti anaknya atau pasangan hidupnya. Misal, di Aceh ada sebuah petani yang setiap pagi selalu mengajak ngobrol pohon kopi dan mengalunkan musik di perkebunan kopi. Ketika ditanya kenapa hal tersebut dilakukannya, si petani menjawab, “seseorang akan menjadi akrab dan baik terhadap kita, ketika kita mampu menjadi sahabat bicaranya. Begitu pun dengan kopi. Pohon kopi akan memberikan hasil yang terbaik ketika kita memperlakukannya dengan baik pula, ngobrol dan memberikannya musik adalah salah satu caranya.” Cara-cara kearifan lokal tersebut terbukti berhasil meningkatkan jumlah panen dengan kualitas yang tak kalah baik dengan perlakuan secara ilmiah. Percaya atau tidak, nyatanya cara tersebut hingga kini terus dilakukan oleh warga setempat.
Tidak berhenti sampai di situ, berbagai kalangan akademisi pun terus meneliti buah kopi ini. Mungkin di antara kita kenal dengan lembaga Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA) yang terus memberikan informasi yang berguna bagi pelaku kopi di Indonesia. Secara sinergi lembaga ini terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk merumuskan teknis penanaman dan pemanenan buah kopi demi menghasilkan biji kopi berkualitas yang mampu mengharumkan nama Indonesia di dunia Internasional. Selain lembaga yang terinisiasi dengan pemerintahan, di Indonesia juga telah banyak bermunculan asosiasi-asosiasi non-pemerintah yang terus mengembangkan penjualan komoditas kopi. Salah satunya, dikenal Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI). Asosiasi ini merupakan wadah seluruh perusahaan eksportir kopi dan perusahaan indsutri pengolahan kopi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia, terutama petani kopi.
Kenapa semua instansi tersebut penting? Tidak lain, semuanya bertujuan untuk menjaga kualitas kopi di pasaran, sehingga mampu menyejahterakan petani kopi Indonesia. Petani kopi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, merupakan ujung tombak sebuah sajian kopi terasa nikmat. Kualitas kopi dari hulu harus diperhatikan. Karena itu, perbaikan pengetahuan dalam hal teknis di kebun perlu terus di-upgrade, meskipun setiap daerah memiliki cara tradisional yang patut dihormati. Selain itu, semangat petani untuk terus memebudidayakan kopi pun harus dijaga, salah satunya dengan harga jual yang bagus, baik bagi petani, pemerintah, maupun konsumen. Kopi memang pengharapan petani kopi untuk memperoleh kehidupan yang layak, tetapi akan menjadi pil pahit juga apabila harga di pasaran mengalami penurunan. Karena itu, semua stakeholder mesti bergandengan tangan untuk membangun komoditas satu ini demi terjaganya kontinuitas budi daya dan bisnis kopi.
“Karena kopi bukan sekadar komoditas, ada pengharapan di tiap aromanya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...