Langsung ke konten utama

Ronggeng Dukuh Paruk



Tabu bukan tanpa norma. Tabu bukan tanpa nilai. Ronggeng dengan segala atribut dan maknanya yang tabu telah jauh ditinggalkan di masa kini. Ahmad Tohari berhasil secara lugas dan jujur mengangkat Ronggeng bukan sekedar karya seni, tapi lebih dari itu. Mungkin dari beberapa karya Ahmad Tohari yang saya kenal dan pernah baca, Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk lah yang begitu mempesona. Bukan karena membahas ronggengnya, tapi cara bertutur seorang Tohari secara gamblang membuka mata kita bagaimana kehidupan seorang ronggeng dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tak selamanya sematan ronggeng yang melekat pada diri seorang perempuan terpilih menjadi suatu kebanggaan, bisa jadi itu sebuah beban atau bahkan ketika tersemat kata ronggeng pada diri perempuan tersebut, dirinya harus ikhlas meninggalkan kehidupan duniawinya yang penuh ambisi. Tidak mudah memang hidup berbagi peran, di sini lah Tohari mencoba membuka secara lugas kepada publik pengorbanan seorang ronggeng yang mungkin tak akan bisa kita bayangkan bila hal tersebut masih berlanjut hingga zaman ini. Ronggeng hidup sebagai alat kepuasan birahi, dikala takhayul dan kutukan roh menjadi Tuhannya. Ronggeng menjadi alat politik, ketika di era 65 palu dan arit menjadi ideologi yang laku di pasaran. Ronggeng menjadi "uang sogokkan" proyek pembangunan desa, ketika kota menjadi candu bagi warganya. Ronggeng yang dicinta, Ronggeng yang terluka. Ronggeng yang harus ikhlas merelakan cintanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...