Langsung ke konten utama

Semangat Wiji Thukul tak pernah mati



Penyair Wiji Thukul merupakan salah satu tokoh aktivis yang hingga kini hilang di tengah geger-gegeran reformasi pada Mei 1998. Kini, 15 tahun sudah era reformasi bergulir. Namun, Wiji tetap tak diketahui kabar pastinya. Untuk mengenangnya, puisi-puisi karyanya pun diterbitkan.

Wiji Thukul lahir si Solo, 26 Agustus 1963. Ia sudah menulis puisi sejak awal 1980-an, dan kerap membacakan karya-karyanya di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo. Dua kumpulan puisi pertamanya terbit pada 1984 secara terbatas, masing-masing 'Puisi Pelo' dan 'Darman dan Lain-lain'. Pada 1994, terbit buku kumpulan puisinya berjudul 'Mencari Tanah Lapang' dengan kata pengantar dari sosiolog dan mantan aktivis 66 Arief Budiman.

Pada 2000, penerbit Indonesia Tera dari Magelang mengumpulkan hampir semua puisi Wiji yang pernah terbit, dan diterbitkan kembali di bawah judul 'Aku Ingin Menjadi Peluru'. Dalam edisi cetak ulangnya, ditambahkan beberapa puisi Wiji yang ditulis dalam pelariannya sebagai 'buron politik' pemerintah Orde Baru. Salah satunya berjudul 'Baju Loak Sobek Pundaknya', sebuah puisi yang sangat sedih yang ditujukan untuk istrinya.

Wiji diburu para jenderal Orde Baru di Jakarta karena aktivitasnya di panggung politik praktis, terutama di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat, di bawah Partai Rakyat Demokratik. Dari puisi-puisinya, lahir slogan-slogan perlawanan yang sangat terkenal, seperti 'satu mimpi, satu barisan' dan 'hanya ada satu kata: lawan!' Dalam pelariannya sejak 1996, Wiji Thukul bersembunyi dengan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain.
Dalam pelariannya, Wiji Thukul bahkan masih bisa bercanda. Ketika hujan turun, ia pun menulis syair: hujan malam ini turun/ untuk melindungiku/ intel-intel yang bergaji kecil/ pasti jengkel....

Tentu saja, ada kegetiran di balik lirik yang terkesan bergurau itu. Wiji pun melanjutkan: malam yang gelap ini untukku/ malam yang gelap ini selimutku/ selamat tidur tanah airku/ selamat tidur anak istriku/ saatnya akan tiba/ bagi merdeka/ untuk semua

Layaknya kebanyakan karya Wiji, puisi tersebut walau menyimpan kepedihan tetap ditulis dalam gaya yang santai, dibungkus dengan hal-hal rutinitas keseharian dalam kehidupan rumah tangga rakyat kecil. Berikut petikan puisi 'Para Jenderal Marah-marah':

Pagi itu kemarahannya disiarkan
oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku
yang menonton. Istriku kaget. Sebab
seorang letnan jenderal menyeret-nyeret
namaku. Dengan tergopoh-gopoh
selimutku ditarik-tarik. Dengan
mata masih lengket aku bertanya:
mengapa? Hanya beberapa patah kata
keluar dari mulutnya: "Namamu di
televisi...."

Puisi Wiji tak pernah bertele-tele dengan metafora. Bahkan, salah satu puisinya yang terhimpun dalam kumpulan ini terang-terangan mengungkapkan bahwa dirinya tak memerlukan metafora untuk mengatakan pikiran dan isi hatinya. Seperti tampak pada puisi berjudul 'Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?'

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek --biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku --4 th-- melihatnya!)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Imajinasi

Di saat mentari telah menampakkan wajahnya pada dunia Di kala semua orang telah menyapa pagi Aku masih terperangkap dalam sebuah kegelapan dan aku terdiam Aku mencoba untuk mencoba dan terus mencoba untuk merubah jiwaku Jiwa tertindas... Jiwa yang dikelilingi oleh ketakutan dan kegelisahan Aku mencoba untuk menjadi idealis untuk diakui nahwa aku ada di dunia ini “Dunia” yang ku miliki tak sama bahkan tak nyata seperti dunia mereka Dunia yang bulat, dunia yang berisikan kehidupan berbagai makhluk hidup, itulah dunia mereka “Duniaku” adalah dunia tanpa batas, tanpa ruang dan selalu berkembang penuh imajinasi, banyak peristiwa yang terjadi tanpa harus berlaku pada hukum dan perundang-undangan buatan manusia Hanya satu yang harus dilakukan di duniaku, teruslah berimajinasi Kehidupan imajinasiku terukir tanpa aturan, dipaparkan tanpa pendengar Hanya aku yang mengerti Hanya aku yang berpikir Berpikir bahwa aku telah menang melawan ketakutan dan kegelisahank...

10 Tahun Hilangnya Napasmu

Semangatnya masih terasa Raut wajahnya masih jelas dipikiran Kata-katanya masih jelas terngiang di telinga Orasi dan jeritannya tak akan pernah terlupakan Munir, kau kan terus hidup meskipun hanya sebuah nama Hidup dan menjelma bagai api berkobar Yang terus memicu tubuh kami tuk terus bergerak Bangkit dari tertidurnya keadilan Tuk mencambuk lemahnya pemerintahan Pemerintah yang mencoba melupakan dirimu Banyak yang sengaja tak diungkap Banyak yang sengaja disembunyikan Membuat diantara kita jadi terlena dan lupa Merubah kenyataan menjadi sebuah fitnah Sandiwara dimulai, Presiden tak mau peduli Di luar istana kami berdiri tuk sekali lagi Ingin melihat ksatria bangsa tak berlindung di balik istana Sambil mencoba melupakan keji dan hina nya sejarah HAM bangsa ini 10 tahun bukan waktu yang mudah Bagi kami tuk melihat kotornya negeri ini Membungkam dan menghilangkan pejuang bangsa Pejuang nan idealis berjuang atas nama HAM Berjuang membaut kesadaran akan k...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...