Langsung ke konten utama

Postingan

Kopi, Secangkir Harapan

Kopi, merupakan komoditas yang tidak asing lagi bagi kita semua. Terlepas dari jenis dan kemasannya, kopi sudah menemani masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Bukti yang paling nyata, yaitu berdirinya Warung Kopi Ake. Kedai kopi tertua yang telah berdiri sejak tahun 1821 ini telah menyajikan sajian kopi yang begitu khas untuk masyarakat Belitung. Tak dapat dipungkiri, fase tersebut menjadi sebuah tren baru menikmati sajian kopi pada masa itu. Kemunculan Warung Kopi Ake pun diikuti oleh kemunculan kedai-kedai kopi lainnya di berbagai daerah. Kondisi tersebut mengindikasikan, bahwa budaya ngopi memang telah menjadi salah satu budaya bangsa ini yang telah terpelihara sejak zaman dahulu kala. Mungkin dari kita semua tahu, bahwa kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang dapat diolah menjadi sajian nikmat nan bermanfaat bagi tubuh. Namun, apakah hanya sampai di situ pengetahuan tentang kopi? Jika menilik sejarahnya, kopi merupakan “harta karun” yang ditinggalkan...
Postingan terbaru

Nyanyian Akar Rumput

Nyanyian Akar Rumput, kumpulan puisi-puisi Wiji Tjukul selama perjalanan hidupnya. Dari Thukul kita belajar puisi tak harus berima, puisi tak harus puitis, puisi tak melulu sedu sedan, tetapi puisi harus bisa mewakilkan keadaan sekitar. Dari sekian banyak kumpulan puisi Thukul,mayoritas puisinya bernadakan perlawanan kaum buruh dan rakyat tertindas, tetapi ada satu puisi yang menggambarkan sosok ibunya tercinta. Puisi itu merupakan salah satu karya yang saya sukai dari Thukul. Dari puisi itu saya selalu teringat mendiang Ibu. Sajak Ibu ibu pernah mengusirku minggat dari rumah tetapi menangis ketika aku susah ibu tak bisa memejamkan mata bila adikku tak bisa tidur karena lapar ibu akan marah besar bila kami merebut jatah makan yang bukan hak kami ibuku memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang ketabahan ibuku mengubah rasa sayur murah jadi sedap ibu menangis ketika aku mendapat susah ibu menangis ketika aku bahagia ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda ibu mena...

Cantik itu Luka

Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan membawa kita berpetualang kembali melintasi Indonesia di era penjajahan dan kemelut 65. Tidak mudah menjalani peran sebagai ibu dan perempuan yang harus tersu menghidupi dan membesarkan anak dengan pekerjaan sebagai perempuan "penghibur" di kala itu. Kemelut dalam jiwanya terkadang menolak untuk terus menjalani pekerjaannya, tetapi keadaan bangsa yang belum menentu di masa penjajahan memaksa dirinya untuk terus hidup dalam lingkaran kesesatan. Melahrikan 4 anak perempuan dengan 3 diantaranya perempuan yang cantik bukan hanya anugerah tetapi terkadang menjadi musibah baginya. Hanya 1 anak yang jauh dari kata cantik atau bisa dibilang buruk rupa sesuai dengan doa ibu nya agar terhindar dari lubang kenistaan seperti 3 kakak-kakaknya. Namun, apakah terlahirnya si buruk rupa menjadi sebuah jawaban baginya untuk terhindar dari kenistaan? atau malah memperpanjang penderitaan sang ibu?  Lengkap dengan drama perjuangan seorang ibu dan keempat p...

Wisanggeni Sang Buronan

Satu lagi cerita dari om Seno,memberikan cara pandang baru melihat sebuah karya sastra. cerita yang keluar dari pakem pewayangan ini layak menjadi bacaan di era banyak orang lupa hidup menjadi wayang dan bagaimana wayang itu bercerita. Secara apik Seno membuat karakter fiktif di dalam cerita yang sebenarnya fiktif tapi telah melegenda di jiwa penikmat pewayangan. Namun, secara tersirat apa yang disampaikan oleh Seno dalam bukunya ini telah menggambarkan fenomena yang muncul di kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana orang yang dianggap tak mampu untuk bersaing dengan kelas atas bisa menunjukkan bahwa dirinya pantas berada di kalangan tersebut. Wisanggeni yang kehadirannya tidak diinginkan mencoba mendobrak pakem yang ada. Wisanggeni sebagai individu yang ingin dihilangkan memberontak pada keadaan, dirinya dengan tidak mudah menyerah pada berbagai tekanan yang membuat dirinya harus menyingkir. Namun, dengan tingkat keikhlasan dan pengorbanan yang luar biasa, mau tidak mau Wisanggen...

Ronggeng Dukuh Paruk

Tabu bukan tanpa norma. Tabu bukan tanpa nilai. Ronggeng dengan segala atribut dan maknanya yang tabu telah jauh ditinggalkan di masa kini. Ahmad Tohari berhasil secara lugas dan jujur mengangkat Ronggeng bukan sekedar karya seni, tapi lebih dari itu. Mungkin dari beberapa karya Ahmad Tohari yang saya kenal dan pernah baca, Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk lah yang begitu mempesona. Bukan karena membahas ronggengnya, tapi cara bertutur seorang Tohari secara gamblang membuka mata kita bagaimana kehidupan seorang ronggeng dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tak selamanya sematan ronggeng yang melekat pada diri seorang perempuan terpilih menjadi suatu kebanggaan, bisa jadi itu sebuah beban atau bahkan ketika tersemat kata ronggeng pada diri perempuan tersebut, dirinya harus ikhlas meninggalkan kehidupan duniawinya yang penuh ambisi. Tidak mudah memang hidup berbagi peran, di sini lah Tohari mencoba membuka secara lugas kepada publik pengorbanan seorang ronggeng yang mungkin ...

Loper Koran

larut dalam kepakan embun melesat saingi fajar kibarkan wudhu letakkan dahi di tanah tak lupa restu ibu dalam balutan nisan berhias debu menderu waktu lintasi jalan berpeluh terik matahari dan rinai hujan tajam kerikil lekat di kaki bagai teman rindang pohon redakan sedu sedan di beranda kawan sampaikan kabar lunas sudah puluhan kata berita tersiar lekukan senyum mu kawan hapus nanar lambaian tangan mu kawan rona sabar berpendar pernah bosan selimuti jiwa pernah lelah membebani raga tapi kota tidak peduli apa yang ku rasa berhenti bukan jawaban dari sang pencipta entah berapa rumah telah ku singgahi entah berapa orang telah ku jumpai entah berapa tahun telah ku jelajahi entah berapa koran telah ku beri koran... bukan sekedar kumpulan kalimat bersayap dan beranak koran... kata-kata tersusun hantaran lisan cerita terbentuk ciptakan khayalan koran... tiap halaman adalan harapan tiap halaman adalah penghidupan

Sanubari

senja datang gantikan rona terang cahaya dekati malam dekap wajah pekerja ini bukan sekedar pergantian masa senja datang selimuti murung tanah gersang coretan jingga hantarkan sendi meregang alur roda sepeda melaju lebih kencang tiap jarak jalan hapuskan keluh kesah lukiskan senyum bocah dalam balutan ikhlas membuka pelukan, sembuhkan lelah teringat kemarin gerak lincah mu getarkan perut ibu bergerak tiada henti menghibur ibu tuk mengganti kecemasan menemani ibu tuk membasuh kerinduan teringat kemarin telapak tangan mengusap lembut di perut ibu kan jadi selimut  hangat beri ketenangan terasa detak jantung mu beri semangat hembuskan napas yang terasa begitu lekat tiap gerak mu menggoda lelah dan keringat hilang tak berbekas desiran angin iringi langkah pulang sekali lagi…roda sepeda ku laju lebih cepat tiap jarak terlewati menyisahkan angan tuk berjumpa, bercerita, menikmati lukisan langit senja ...