Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Pagi Sendu

Cangkir kesayangan berhias ayam jago tercium aroma biji kopi ala café. Melengkapi pagi sendu. Menarawang jalan lengang agak basah depan rumah. Sesekali terlihat ibu menggandeng anaknya antar ke sekolah. Berkalung kantuk dan malas si anak melangkah. Ku sunggingkan senyum ke arah mereka. Lambaian tangan tak tertinggal, berharap si anak mempercepat langkahnya. Seruput kopi pagi aroma biji ala café ciptakan nada nikmat. Terasa pas, tidak manis, sedikit pahit. Sedikit panas, ciptakan tenang yang sederhana. Daun kelapa milik tetangga menari malu-malu manjakan pagi. Tak rela berlalu begitu cepat, ku abadikan dalam sebuah coretan. Tak begitu sempurna, tak ada kesan di dalamnya. Koran berdampingan dengan cangkir kesayangan berhias ayam jago yang masih tercium aroma biji kopi ala café. Koran pagi yang tak menarik tuk dibaca. Tak bosan terus menggoda. Tiap lembar pamer kabar. Dari sudut balkon jamahi kata-katanya. Sedikit terpaksa, tapi tetap harus dibaca. Berita terlihat abu-abu. Bukan ...

Ah..biarlah...

Hujan sore membawa nada bimbang bersama rasa dingin menghujam tak lupa angin ikut serta ciptakan gerakan sempurna runtuhan bendungan langit yang tak lagi kuat menopang Masih di halte yang sama Masih memandang lampu jalanan yang sama Masih mencium aroma got yang sama Masih mendengar ocehan pedagang yang sama Semua nya masih tampak sama… Ah…biarlah… Meski semua masih tampak sama pun mereka tak bosan di tempat yang sama Langit merah sedikit gelap Tergambar mirip flannel yang ku kenakan sejak kemarin Sebuah kebetulankah?? Atau memang langit diam-diam menyelaraskan? Ah…biarlah…. Kebetulan atau tidak, hujan juga tidak peduli pun peduli, pasti hujan berwarna sama dengan flannel sedikit sobek pada ketiak yang ku kenakan sejak kemarin Ku tengok satu persatu wajah gelisah di halte Guratan wajah yang terlalu resah Melebihi keresahan penjajak es cendol berteduh di tempat yang sama dalam hatinya mungkin mengutuk tiap butiran ...

Belati dan Gelang Punakawan

Nyamuk menghisap darah dengan pongahnya Gaung suaranya tak kalah meriah Memaksa mencari teman bercerita baru di dalam rumah Hanya ada kursi, meja, lemari, guci, dan gelang ukiran punakawan melingkar di tangan Lukisan dan tumpukan buku bersembunyi Menyelamatkan diri dari cerita basi Mata ku tetap mencari kawan mana yang pantas menyimak tiap lontaran kata-kata Malam masih diiringi lekingan suara anjing tanpa henti Berpadu suara khas pedagang nasi goreng langganan melengkapi kebisingan mengiringi nyanyian jangkrik “jangkrik..jangkrik…sekiranya kau anjing” “anjing…anjing…sekiranya kau jangkrik” , aku mulai berkhayal Sekiranya begitu mudah bertukar tempat Sekiranya begitu mudah memilih Mungkin saat ini aku berdagang nasi goreng tidak hanya berteman dengan kursi, meja, lemari, dan guci   Sekali lagi, lukisan dan buku masih bersembunyi… Terang petromak di gerobak nasi goreng menyemburatkan siluet sempurna pada dinding rumah Lo...