Cangkir kesayangan berhias ayam jago tercium aroma biji kopi ala café. Melengkapi pagi sendu. Menarawang jalan lengang agak basah depan rumah. Sesekali terlihat ibu menggandeng anaknya antar ke sekolah. Berkalung kantuk dan malas si anak melangkah. Ku sunggingkan senyum ke arah mereka. Lambaian tangan tak tertinggal, berharap si anak mempercepat langkahnya. Seruput kopi pagi aroma biji ala café ciptakan nada nikmat. Terasa pas, tidak manis, sedikit pahit. Sedikit panas, ciptakan tenang yang sederhana. Daun kelapa milik tetangga menari malu-malu manjakan pagi. Tak rela berlalu begitu cepat, ku abadikan dalam sebuah coretan. Tak begitu sempurna, tak ada kesan di dalamnya. Koran berdampingan dengan cangkir kesayangan berhias ayam jago yang masih tercium aroma biji kopi ala café. Koran pagi yang tak menarik tuk dibaca. Tak bosan terus menggoda. Tiap lembar pamer kabar. Dari sudut balkon jamahi kata-katanya. Sedikit terpaksa, tapi tetap harus dibaca. Berita terlihat abu-abu. Bukan ...