Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Sedikit Goresan yang Gamang

Berkah penulis begitu terasa ketika melamunkan sesuatu tanpa disadari telah tercipta sebuah ukiran tulisan yang terkadang berangkat dari hal sederhana. Apa yang dipikirkannya, yang dirasaknnya, mampu menjadi sebuah tulisan tanpa harus berpikir pantaskah tulisan tersebut untuk dibaca orang lain. Penulis mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Sehingga tak dapat dipungkiri, penulis memiliki dunia sendiri. Dunia yang tercipta dari semua fenomena yang datang dan pergi. Sehingga terkadang seorang penulis seakan tidak memiliki beban pikiran tentang hidupnya. Karena apa yang ia rasakan dan pikirkan telah tertuang dalam sebuah tulisan. Hidupnya terasa lebih free dan happy . Berangkat dari fenomena dan peristiwa yang ia rasakan, baik buruk atau baik, memberikan ruang tersendiri dalam pikirannya untuk lebih sensitif dan empati terhadap apa yang ia lihat. Penulis memiliki sisi misterius yang amat dalam. Kebanyakan orang mudah mengenali sosoknya dari karyanya. Disaat yang...

Hinakah hidup idealis?

Terlintas dalam sebuah lamunan ketika teringat perkataan dari beberapa teman tentang pilihan hidup. Ada yang bilang hidup harus melihat kenyataan, tuntutan kebutuhan hidup di masa mendatang akan jauh lebih berat. Sehingga bekerja menjadi pegawai Bank atau perusahaan besar lainnya adalah sebuah kewajaran. Demi menghimpun dana untuk kedepan, maka dari sekarang bekerjalah dengan upah yang lumayan besar. Di sisi lain ketika ada seorang teman yang mulai meniti karir dengan memilih jalur yang agak “berbeda”, entah sebagai pejuang LSM, jurnalis sayap kiri, ataupun menggabungkan dirinya ke dalam komunitas sosial selalu saja dianggap tidak waras. Ini sebuah kenyataan yang memang tidak selalu begitu keadaannya. Orang-orang diluar sana yang hidup “normal” menganggap orang-orang yang menjalankan hidupnya untuk mengungkit kematian atau hilangnya aktivis di masa orde baru, membela hak buruh, mencibir pemerintah yang kusut, dan berbagai macam kegiatan yang berlabel sosial politik selalu dianggap I...

Semangat Wiji Thukul tak pernah mati

Penyair Wiji Thukul merupakan salah satu tokoh aktivis yang hingga kini hilang di tengah geger-gegeran reformasi pada Mei 1998. Kini, 15 tahun sudah era reformasi bergulir. Namun, Wiji tetap tak diketahui kabar pastinya. Untuk mengenangnya, puisi-puisi karyanya pun diterbitkan. Wiji Thukul lahir si Solo, 26 Agustus 1963. Ia sudah menulis puisi sejak awal 1980-an, dan kerap membacakan karya-karyanya di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo. Dua kumpulan puisi pertamanya terbit pada 1984 secara terbatas, masing-masing 'Puisi Pelo' dan 'Darman dan Lain-lain'. Pada 1994, terbit buku kumpulan puisinya berjudul 'Mencari Tanah Lapang' dengan kata pengantar dari sosiolog dan mantan aktivis 66 Arief Budiman. Pada 2000, penerbit Indonesia Tera dari Magelang mengumpulkan hampir semua puisi Wiji yang pernah terbit, dan diterbitkan kembali di bawah judul 'Aku Ingin Menjadi Peluru'. Dalam edisi cetak ulangnya, ditambahkan beberapa puisi Wiji yang ditulis dalam pel...

celotehan dari ketidakjelasan negeri