Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Tangisan Sutijah - bagian 1 (2)

Lengkap dengan caping di kepala, masih dengan kebaya lusuh di badannya, tak tertinggal jarik bertambal, dan sebuah arit di tangan, dirinya memulai aktivitas yang rutin dikerjakannya. Sinar mentari yang menyelinap dari lubang-lubang bilik bambu rumahnya, suara ayam berkokok yang saling bersaut, dan tanah merah di depan rumahnya mengiringi langkah Sutijah menuju sawah Pak Darmo. Darmo Sastrodiharjo, seorang bangasawan dan tuan tanah yang memiliki lahan luas di desa Sutijah berada. Sebagai keturunan ningrat yang hidup dalam masyarakat dengan kebudayan Jawa yang begitu kental, tentu saja keberadaan Pak Darmo sangat dihormati dan disegani. Tak seperti tuan tanah kebanyakan, Pak Darmo adalah sosok yang bersahaja, sangat bersahabat dengan buruh tani nya, dan membuka kesempatan luas kepada warga yang ingin bekerja di lahannya. Bagi Sutijah, Pak Darmo tetesan embun di antara keringnya ladang. Pak Darmo memberikan harapan kepada Sutijah untuk tetap bisa menghidupi keluarganya. Dari Pak ...

Malam Menanti Hujan

Terperangkap dalam keheningan malam Meminta langit menurunkan hujan Berharap tiap tetesannya mampu meredakan kerinduan Kerinduan yang tak mungkin diucapkan…   Hanya mampu bersimpuh di ujung penantian Meski raga menolak namun hati tak dapat menipu diri Meski tetesan air mata basahi pangkuan harapan yang tak pasti Kerinduan tetap menanti hujan……   Terlalu sombongkah langit tuk mengucap janji? Atau malam yang terlalu setia kepada langit? Tak ada lagi kuasa diri ini tuk meminta berulang kali Karna janji tak kunjung menyasar ke sanubari…   Malu pada pohon..malu pada rumput…malu pada serangga… Tak pernah ku dengar mereka mengeluh atau meminta Mungkin saat ini batu dihadapanku tertawa dalam diamnya… Mungkin saat ini tanah mengasihaniku dalam ketabahannya… Mengasihaniku karna hanya mampu mengadah…meminta belas kasihan… dan tetap bersimpuh menanti hujan tuk meredakan kerinduan yang tak mungkin diucapkan….. ...

Tangisan Sutijah - bagian 1 (1)

Dalam gelap Sutijah merenung akan kehidupannya yang tiap malam harus mendengar tangisan anaknya. Bukan sembarang tangisan, namun air mata dan suara parau sang anak menyuarakan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah dua bulan ini di rumah Sutijah tidak memiliki persediaan beras. Kini hanya ada sedikit nasi jagung yang mungkin masih layak untuk dimakan. Untuk mendapatkan beras, dirinya harus menunggu belas kasihan tetangganya. Sebelum dua bulan yang telah dilalui nya ini, biasanya Pak Karmo, seorang dukuh desa, menyambanginya untuk memberikan sekantong beras seminggu sekali untuk Sutijah. Memang jauh dari kata cukup, namun hati Sutijah sudah merasa bersyukur ada beras yang bisa diolah untuk makan anak-anaknya. Namun dua bulan terakhir ini Sutijah tak mendengar suara langkah Pak Karmo yang biasanya disertai ketukan pintu bilik bambu rumah Sutijah. Entah apa yang terjadi dengan kiriman beras tersebut, ada kabar yang terdengar bahwa Pak Karmo enggan berkunjung lagi ke rumah ...

Gadis Pecinta Senja

Angin mendesir di sekitar tubuhku membawa angan melangkah tanpa tujuan Hanya batu dan rerumputan yang sanggup mengerti keberadaanku saat ini Aku hanya ingin diam dan menikmati setiap hembusan napas alam Tak seperti biasanya... kini ku dapat melihat senja dengan bebas Tanpa ada jendela, kendaraan yang berlalu lalang, atau sesak manusia yang mengejar nafsunya…. Di tempat ku berdiri saat ini dalam hati terbesit kata syukur Tak terasa senyum ku merekah menyambut senja Haru biru ku melihatnya… bukan hanya karna keindahannya Senja memberikan begitu banyak warna Senja memberikan begitu banyak cerita dan senja memberikan alasan tuk tetap menunggu indahnya hari esok Diri ini sadar, kejenuhan, letih, luka, sedih, dan amarah hanya bara kecil yang segera padam dengan menatap senja… Senyum dan keceriaan menjadi awalan tuk menerima hari yang semakin dingin hari yang diselimuti gelap… Dengarkanlah hembusan anginnya, resapi sentuhan h...