Lengkap dengan caping di kepala, masih dengan kebaya lusuh di badannya, tak tertinggal jarik bertambal, dan sebuah arit di tangan, dirinya memulai aktivitas yang rutin dikerjakannya. Sinar mentari yang menyelinap dari lubang-lubang bilik bambu rumahnya, suara ayam berkokok yang saling bersaut, dan tanah merah di depan rumahnya mengiringi langkah Sutijah menuju sawah Pak Darmo. Darmo Sastrodiharjo, seorang bangasawan dan tuan tanah yang memiliki lahan luas di desa Sutijah berada. Sebagai keturunan ningrat yang hidup dalam masyarakat dengan kebudayan Jawa yang begitu kental, tentu saja keberadaan Pak Darmo sangat dihormati dan disegani. Tak seperti tuan tanah kebanyakan, Pak Darmo adalah sosok yang bersahaja, sangat bersahabat dengan buruh tani nya, dan membuka kesempatan luas kepada warga yang ingin bekerja di lahannya. Bagi Sutijah, Pak Darmo tetesan embun di antara keringnya ladang. Pak Darmo memberikan harapan kepada Sutijah untuk tetap bisa menghidupi keluarganya. Dari Pak ...